TENJOBUMIKOPI.com – Di sudut kafe yang riuh oleh denting sendok dan aroma Robusta yang pekat, kalimat itu mampir seperti teguran yang dingin: “Kita bisa overthinking pada hal-hal buruk yang menimpa kita; lalu, mengapa kita tidak bisa overthinking pada hal-hal terbaik yang kita alami?” Kalimat itu seolah menelanjangi kebiasaan buruk kita yang terlalu fasih meratapi luka namun gagap saat mengecap bahagia.
Kita sering kali begitu betah menetap di dalam labirin kecemasan, menguliti setiap kegagalan hingga ke akarnya, sementara momen-momen emas kita biarkan lewat begitu saja tanpa sempat diberi makna yang dalam.
Padahal, jika otak kita punya kapasitas untuk menciptakan neraka dari sebuah kekhawatiran, ia juga punya kekuatan yang sama untuk membangun surga dari sebuah rasa syukur; kita hanya perlu belajar untuk berhenti lebih lama pada apa yang membuat kita merasa hidup.
Duduklah sebentar. Mari kita bicarakan ini sambil menyesap Robusta panas tanpa gula. Pahitnya jujur, tidak ada yang disembunyikan sama seperti kenyataan yang sedang kita bahas.
Kutipan itu adalah tamparan yang logis.
Selama ini, kita memperlakukan otak kita secara tidak adil. Kita membiarkan pikiran bekerja lembur, membedah setiap inci kesalahan dan penyesalan sampai lumat. Namun, saat hal baik datang, kita hanya memberinya apresiasi sekilas, lalu buru-buru beralih ke beban berikutnya. Dan, inilah lasan mengapa kutipan itu sangat masuk akal:
1. Keadilan untuk Diri Sendiri
Kita sering terjebak dalam negativity bias, sebuah mekanisme bertahan hidup purba yang membuat kita lebih peka terhadap ancaman daripada peluang. Namun, di dunia modern, mekanisme ini sering kali malfungsi. Menggunakan energi “overthinking” untuk hal baik adalah cara kita menyeimbangkan timbangan mental agar tidak terus-menerus berat ke arah kecemasan.
2. Memperpanjang Masa Berlaku Kebahagiaan
Kebahagiaan sering kali lewat begitu saja karena kita tidak memberinya durasi. Dengan memikirkannya secara mendalam mengingat detailnya, rasanya, dan dampaknya kita sebenarnya sedang mengawetkan momen tersebut. Ini adalah cara praktis untuk mengubah kesenangan yang singkat menjadi kekuatan mental yang permanen.
3. Otak adalah Otot
Jika kamu terus melatih otak untuk mencari celah kesalahan, ia akan menjadi sangat ahli dalam hal itu. Sebaliknya, memaksa otak untuk “overthinking” pada hal-hal terbaik adalah latihan untuk mengubah pola saraf. Kamu sedang melatih dirimu untuk menjadi orang yang lebih jeli melihat peluang daripada sekadar meratapi hambatan.
Intinya, overthinking pada hal buruk hanya menghasilkan kecemasan. Overthinking pada hal baik menghasilkan apresiasi. Keduanya menggunakan energi yang sama, namun memberikan hasil yang bertolak belakang.
Lalu, kenapa kita begitu pelit memberikan waktu untuk kebahagiaan kita sendiri?

Membedah Kebahagiaan dengan Logika Robusta
Sama seperti kopi hitam di tanganmu, hidup tidak butuh pemanis buatan untuk bisa dinikmati. Kamu hanya butuh ketenangan untuk merasakan setiap lapis rasanya.
• Efisiensi Energi: Overthinking butuh energi besar. Jika kamu sanggup menguras baterai mentalmu untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi, seharusnya kamu punya daya yang sama untuk memikirkan mengapa hari ini berjalan begitu lancar.
• Melawan Bias: Otak manusia memang dirancang untuk waspada pada bahaya. Tapi hidup bukan lagi soal lari dari singa di hutan. Kita harus sengaja memaksa pikiran untuk “berhenti” pada keberhasilan, atau kita akan terus merasa kekurangan meski sudah memiliki segalanya.
• Menghargai Proses: Memikirkan hal-hal terbaik secara mendalam adalah bentuk penghormatan pada usahamu. Itu adalah cara untuk berkata pada diri sendiri: “Ini hasil kerja kerasmu, berhentilah sejenak dan lihat betapa hebatnya ini.”
Refleksi di Dasar Cangkir
Kebiasaan kita memikirkan hal buruk hanyalah sebuah pola. Dan pola bisa dipatahkan. Jika pikiranmu mulai liar mencari celah kegagalan, tarik ia kembali. Paksa dia untuk membedah kemenangan kecilmu hari ini.
Jangan biarkan momen indah itu lewat begitu saja tanpa sempat kamu beri makna yang mendalam. Pikiran yang adil adalah bentuk harga diri. Jika kita sanggup menghabiskan malam dengan membedah kata-kata kasar orang lain, sangat tidak logis jika kita tidak bisa menggunakan durasi yang sama untuk membedah pujian yang tulus.
Memikirkan hal-hal baik secara mendalam bukanlah kenaifan, melainkan strategi, cara untuk memastikan bahwa pencapaian dan keberuntungan kita tidak menguap begitu saja tanpa sempat kita nikmati esensinya. Sederhananya, gunakan alat yang sama (overthinking), tapi ganti bahan bakunya.
Jadi, selagi pikiranmu sibuk membedah keajaiban-keajaiban kecil yang terjadi hari ini, pastikan ada secangkir kopi yang menemani proses “overthinking positif” itu. Biarkan Tenjobumi Kopi menjadi saksi bisu setiap refleksi hebatmu, karena kalau otak sudah diajak kerja keras memikirkan hal-hal indah, lidahmu juga berhak mendapatkan apresiasi dari rasa kopi yang jujur dan berkarakter.
Segera amankan stok kopimu melalui tautan ini atau langsung meluncur ke basecamp Tenjobumi Kopi . Mari kita rayakan hal-hal terbaik dalam hidup, satu sesapan mantap demi satu sesapan lainnya! Mau aku bantu buatkan takaran seduh yang pas untuk menemani sesi renungmu malam ini?









