TENJOBUMIKOPI.COM – Kabut. Itu adalah hal pertama yang menyambut Anda atau siapa pun yang berani mendaki ke pangkuan Desa Parentas, jauh di lereng Gunung Galunggung. Bukan kabut yang tipis, melainkan selimut tebal nan lembap yang seringkali enggan beranjak, merajut jaring-jaring perak di antara dahan-dahan pohon. Di sinilah di Bawah Selimut Kabut Galunggung,Berseminya Biji Harapan Petani itu.
Di pagi hari, Parentas adalah pelukis abstrak yang mengubah siluet pegunungan menjadi bayangan samar, membiaskan cahaya matahari menjadi spektrum keemasan yang lembut. Di siang hari, ia menari di antara kanopi dedaunan kopi, seolah berbisik rahasia masa lalu yang hanya bisa didengar oleh telinga-telinga pohon. Dan di senja hari, ia adalah selendang yang melambai, mengantar matahari pulang dan membawa serta embusan angin dingin yang menusuk.
Di bawah selimut kabut itulah, hamparan hijau kebun kopi Arabika membentang di Parentas. Bukan kebun yang rapi berjajar layaknya barisan tentara di perkebunan modern, melainkan hamparan organik yang membaur harmonis dengan kontur alami perbukitan. Pohon-pohon kopi tumbuh subur, dengan batang-batang yang kokoh, berjemur dalam kelembaban yang konstan. Daun-daunnya berwarna hijau tua yang pekat, sesekali berkilat memantulkan embun pagi yang masih menempel seperti mutiara-mutiara kecil.
Musim panen adalah simfoni warna dan aroma. Biji-biji kopi yang matang menggantung manja di antara daun-daun, memerah merekah seperti permata delima yang tersimpan di balik dedaunan. Beberapa masih hijau, berjanji akan kematangan di hari-hari mendatang untuk para petani yang sabar dan telaten, sementara yang lain sudah menguning, pertanda proses fotosintesis yang sempurna.

Jika diperhatikan lebih dekat, di antara rimbunan itu, terkadang terlihat kupu-kupu dengan sayap-sayap indahnya menari, atau seekor burung kecil hinggap sesaat, meneguk embun dari celah daun.
Tanahnya, tanah vulkanik yang subur, berwana cokelat kehitaman yang lembap. Aroma tanah basah bercampur dengan harum kopi yang belum diolah, menciptakan wangi khas pegunungan yang menenangkan. Di beberapa sudut, gulma tumbuh liar, bukan sebagai hama, melainkan sebagai penyeimbang ekosistem, bukti bahwa di sini alam dibiarkan berkolaborasi, bukan dipaksa tunduk.
Suara-suara alam menjadi melodi pengisi hari. Gemerisik daun kopi yang ditiup angin, desau sungai kecil yang mengalir jernih di dasar lembah, dan sesekali kicauan burung yang saling bersahutan. Saat para petani mulai bekerja, suara-suara itu akan berpadu dengan bisikan percakapan dalam bahasa Sunda yang merdu, tawa renyah anak-anak yang ikut membantu memetik kopi, atau gesekan keranjang anyaman bambu yang terisi penuh dengan biji-biji merah yang ranum.

Ketika matahari mulai meninggi dan kabut perlahan menyusut, Gunung Galunggung akan menampakkan dirinya dengan megah di kejauhan.
Puncaknya yang kokoh, bekas letusan yang tak terlupakan, menjadi penjaga setia bagi desa di bawahnya. Seolah-olah, gunung itu adalah saksi bisu dari setiap tetes keringat, setiap helaan napas, dan setiap biji kopi yang dipanen di Parentas. Di sinilah, di tengah keheningan yang memesona ini, biji-biji harapan itu bersemi, bukan hanya di pohon, tetapi juga di hati setiap insan yang menyebut Parentas sebagai rumah dan penghasil Kopi Tasikmalaya.
Di bawah naungan kabut yang sering kali memeluk lereng Galunggung, Desa Parentas bersandar pada sunyi yang menyimpan ribuan cerita. Sejak pertama kali dipahat oleh sejarah pada tahun 1885, desa di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya ini bukanlah sekadar titik di peta Kabupaten, melainkan sebuah biografi tentang manusia-manusia tangguh yang memilih untuk tetap tegak meski badai sejarah berkali-kali mencoba mematahkan dahan kehidupan mereka.
Kini, kisah ketangguhan dari lereng Galunggung ini tak lagi sekadar menjadi legenda yang terkunci di ketinggian Parentas; ia telah menempuh perjalanan jauh untuk hadir di hadapan Anda. Melalui Tenjo Bumi Kopi, setiap butir Arabika premium hasil keringat para petani Parentas kini dapat Anda sesap di ruang-ruang ternyaman Anda. Menikmati secangkir Kopi Parentas bukan hanya tentang mengecap rasa body yang tebal atau aroma buah yang memikat, melainkan sebuah bentuk penghormatan nyata bagi semangat kebangkitan yang tak pernah padam. Mari rayakan sejarah dan dukung kedaulatan petani lokal dengan membawa pulang sebungkus harapan ini melalui laman kami; sebab di setiap sesapan, ada cinta dari tanah Tasikmalaya yang sedang Anda rayakan.
(Besrsambung)









