100% Kopi Asli Tasikmalaya

Benarkah Pesan Kopi Makin Ribet?

Share

TEBJOBUMIKOPI.COM – Akun @larka2294 mengunggah sebuah video yang menyampaikan keresahannya tentang budaya ngopi masa kini.Intinya sederhana “Pesen kopi makin ribet”, katanya.

Menurutnya, sekarang memesan kopi tidak sesederhana dulu. Pelanggan bisa saja mendapat beberapa pertanyaan sebelum pesanan dibuat. Jika pertanyaan-pertanyaan seperti ini dari crew kedai kopi masih terbilang simple, misalnya.

“Kopinya black atau white?”

“Pakai susu dairy atau non-dairy?”

“Oat milk atau almond milk?”

“Hot atau iced?”

“Single shot atau double shot?”

Namun, jika pertanyaannya sudah lebih spesifik dan intens, mungkin bagi sebagian orang, banyaknya pertanyaan itu terasa berlebihan. Dan entah kenapa, video tersebut mengingatkan saya pada sebuah lelucon khas Sunda. Bayangkan Anda datang ke warung karedok.

“Mang, karedok hiji.”

Alih-alih langsung mengulek bumbu, si penjual mulai bertanya:

“Kacangnya mau lokal atau impor?”

“Hasil petani Priangan atau luar daerah, Banjarnegara, Malang?”

“Cabainya merah atau hijau?”

“Rawit atau keriting?”

“Tingkat kepedasan dari 1 sampai 10, mau level berapa? lima. atau tujuh atau sepuluh?”

“Timunnya organik atau non-organik, mau yang lurus atau bengkok?”

“Kolnya diiris halus atau rustic?”

“Kemanginya mau berapa gram?”

Lama-lama pembeli bisa lupa kalau sebenarnya cuma mau makan karedok. Dan tentu saja itu hanya lelucon. Namun di balik candaan tersebut ada fenomena yang cukup menarik. Ketika sebuah produk berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya, informasi yang mengikutinya ikut bertambah.

Video yang diunggah akun kreator konten kopi @larka2294 pada 1 Agustus 2026 tersebut ternyata terus memancing perhatian warganet. Hingga artikel ini ditulis, utas (thread) diskusinya masih ramai dipenuhi komentar dari berbagai sudut pandang.
Video yang diunggah akun kreator konten kopi @larka2294 pada 1 Agustus 2026 tersebut ternyata terus memancing perhatian warganet. Hingga artikel ini ditulis, utas (thread) diskusinya masih ramai dipenuhi komentar dari berbagai sudut pandang.

Dan kopi sedang berada di fase itu.

Video yang diunggah akun @larka2294 kreator konten yang banyak membahas budaya ngopi dan dunia kopi. Salah satu direktori influencer menyebut akun itu berasal dari Yogyakarta dan berfokus pada topik kopi, makanan-minuman, serta gaya hidup pada 1 Agustus 2026 tersebut ternyata terus memancing perhatian warganet.

Hingga artikel ini ditulis, utas (thread) diskusinya masih ramai dipenuhi komentar dari berbagai sudut pandang. Ada yang setuju bahwa memesan kopi modern terasa semakin rumit karena banyaknya pilihan dan istilah yang harus dipahami pelanggan, ada pula yang membela praktik tersebut sebagai bagian dari edukasi dan pelayanan yang lebih baik.

Ramainya perdebatan ini menunjukkan bahwa kopi hari ini bukan lagi sekadar minuman, melainkan telah menjadi bagian dari budaya yang menghadirkan beragam pengalaman, preferensi, dan cara pandang di kalangan penikmatnya

Dulu Minum Kopi, Sekarang Mengalami Kopi

Puluhan tahun lalu, sebagian besar orang mengenal kopi dalam bentuk yang sederhana. Kopi hitam, kopi susu, atau kopi tubruk.

Hari ini, pelanggan bisa menemukan berbagai istilah yang dulu jarang terdengar. Arabika, robusta, natural process, honey process, washed process, light roast, medium roast, V60, AeroPress, cold brew, hingga berbagai pilihan susu nabati.

Bagi penikmat kopi yang senang bereksplorasi, perkembangan ini terasa menyenangkan. Namun bagi sebagian orang lainnya, semua itu terasa seperti ujian sebelum minum kopi.

Karena itulah video dari @larka2294 mendapat banyak tanggapan dari warganet.

“Ini Namanya Service Excellence”

Salah satu komentar yang cukup menarik datang dari akun @reza_setio:

“Itu namanya service excellence ya mas, in case you don’t know…”

Komentar ini mewakili pandangan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah upaya mempersulit pelanggan, melainkan bagian dari pelayanan.

Logikanya sederhana. Jika pelanggan menyukai kopi yang ringan, tentu berbeda perlakuannya dengan pelanggan yang menyukai rasa pahit dan tebal. Jika ada pelanggan yang tidak mengonsumsi susu sapi, pilihan non-dairy menjadi penting.

Dalam perspektif ini, semakin banyak informasi yang diketahui barista, semakin besar peluang pelanggan mendapatkan minuman yang sesuai dengan seleranya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh akun @apron_worker:

“Ribet atau engga it’s a matter of perspective. Pelaku F&B ngetreat pelanggan gimana caranya biar balik lg, krn datengin pelanggan itu gampang bgt yg cukup sulit dia balik lg.”

Kalimat tersebut menyentuh salah satu tantangan terbesar bisnis makanan dan minuman: membuat pelanggan kembali.

Mendatangkan pelanggan pertama mungkin bisa dilakukan dengan promosi. Namun membuat mereka datang lagi sering kali membutuhkan pengalaman yang lebih personal. Salah satunya melalui komunikasi dan pelayanan.

Tidak Semua Orang Ingin Kuliah Kopi

Di sisi lain, ada pula kelompok yang melihat fenomena ini dari sudut pandang berbeda.

Akun @themma bahkan memberikan respons singkat:

Not Interested

Mute

Meski pendek, komentar ini sebenarnya mewakili sebagian audiens media sosial. Tidak semua orang datang untuk belajar tentang kopi. Banyak yang hanya ingin menikmati minumannya.

Bagi kelompok ini, terlalu banyak istilah teknis justru bisa menciptakan jarak antara produk dan pelanggan.

Fenomena serupa sebenarnya terjadi di banyak bidang. Fotografi, teknologi, otomotif, bahkan olahraga. Ketika sebuah hobi berkembang semakin dalam, bahasa yang digunakan para penggemarnya kadang terasa asing bagi orang awam.

“Ora Kabeh Wong Koyo Koe”

Di tengah perdebatan tersebut, akun @gemaasmaraa memberikan pandangan yang cukup menarik:

“mosok edukasi dianggep ribet mas?

alasannha simple mas :

  1. ga semua tau
  2. supaya kalau sudah tau, harapannya kedepan jadi akan lebih mudah dan aware.
  3. ora kabeh wong koyo koe.”

Komentar ini mengingatkan bahwa apa yang dianggap biasa oleh seorang barista belum tentu diketahui pelanggan.

Orang yang setiap hari berkecimpung di dunia kopi mungkin menganggap istilah “washed”, “natural”, atau “espresso” sebagai hal yang lumrah. Namun bagi pelanggan baru, istilah-istilah tersebut bisa menjadi pengetahuan yang benar-benar baru.

Dan memang di situlah fungsi edukasi.

Bukan untuk membuat sesuatu menjadi rumit, melainkan membantu orang memahami pilihan yang tersedia.

Jadi, Kopi Makin Ribet?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Ya, jika dibandingkan dengan dua puluh tahun lalu, pilihan dalam dunia kopi memang jauh lebih banyak. Jenis biji, metode proses, teknik seduh, hingga pilihan susu berkembang sangat pesat.

Tetapi tidak, jika yang dimaksud adalah kewajiban untuk memahami semuanya.

Hari ini seseorang masih bisa datang ke kedai kopi dan berkata:

“Mas, kopi hitam panas satu.”

Selesai.

Tidak ada ujian. Tidak ada sidang skripsi. Tidak ada presentasi tentang profil rasa. Namun bagi yang ingin tahu lebih jauh, informasi itu tersedia. Mungkin bukan kopinya yang berubah menjadi ribet. Pilihannya saja yang bertambah banyak.

Dan seperti menu di rumah makan Sunda, Anda boleh membaca semua pilihan yang tersedia. Atau langsung bilang:

“Yang biasa aja, Mang.”

Karena pada akhirnya, baik penikmat espresso single origin maupun pemesan es kopi aren setiap hari, keduanya tetap punya tujuan yang sama. Menikmati secangkir kopi yang membuat harinya sedikit lebih baik.

Mau Anda termasuk tim yang langsung bilang “kopi hitam panas satu” atau tim yang penasaran soal varietas, proses pascapanen, dan profil rasa, semuanya sah-sah saja. Kopi tidak pernah mewajibkan siapa pun untuk menjadi ahli sebelum menikmatinya.

Secangkir kopi bisa sesederhana teman sarapan pagi, atau bisa juga menjadi pintu masuk ke cerita panjang tentang petani, kebun, dan perjalanan rasa dari hulu ke hilir. Jadi, kalau suatu hari Anda merasa dunia kopi mulai terasa sedikit “ribet”, mungkin tidak ada salahnya kembali ke hal yang paling sederhana menyeduh kopi yang enak, menyeruputnya perlahan, lalu menikmati momennya. Kalau sedang mencari biji kopi untuk teman momen tersebut, cobalah beans Tenjobumikopi, karena terkadang kebahagiaan tidak perlu dijelaskan panjang lebar, cukup diseduh dan dinikmati.

Featured