TENJOBUMIKOPI.COM – Di tengah tren third wave coffee yang menjamur di kota-kota besar, sebuah karya audio visual hadir untuk menggugat pemahaman kita tentang apa yang ada di dalam cangkir. Dokumenter bertajuk “Aroma of Heaven” (Biji Kopi Indonesia), atau yang secara internasional dikenal dengan judul Biji Kopi Indonesia, merupakan sebuah laporan mendalam yang merajut benang merah antara sejarah, sains, dan spiritualitas kopi di tanah air.
Disutradarai oleh Budi Kurniawan dan diproduseri oleh Alexander S. Rusli bersama Nicholas Yudifar, film ini bukanlah proyek semalam. Produksinya memakan waktu hampir tiga tahun, melibatkan perjalanan panjang ke pelosok nusantara untuk menangkap esensi dari setiap daerah penghasil kopi.
Melalui lensa kamera, jika Anda menonton film dokumenter ini, Anda akan diajak membedah keberagaman kopi Indonesia melalui lima titik utama yang mewakili karakter bangsa:
- Sumatera (Gayo): Menelusuri aroma spicy dan tubuh kopi yang tebal.
- Jawa (Preanger): Menggali kembali memori Cup of Java yang melegenda sejak era kolonial.
- Sulawesi (Toraja): Menyaksikan bagaimana kopi menjadi bagian dari upacara adat dan penghormatan leluhur.
- Bali (Kintamani): Melihat harmonisasi sistem irigasi Subak dengan perkebunan kopi yang unik.
- Flores & Papua: Mengintip potensi tersembunyi dari tanah timur yang eksotis.

Estetika dan Akurasi Suara dari Akar Rumput
Secara teknis, film ini menggunakan pendekatan sinematografi observasional. Budi Kurniawan tidak hanya bertindak sebagai sutradara, tetapi juga sebagai saksi mata yang membiarkan alam berbicara. Pengambilan gambar makro pada bunga kopi yang memutih hingga proses fermentasi biji memberikan detail teknis yang sangat edukatif bagi penonton awam maupun profesional.
“Kopi adalah cara alam berbicara kepada manusia,” ungkap salah satu narasumber dalam film tersebut. Kalimat ini bukan sekadar puitis, melainkan didukung oleh data ilmiah mengenai terroir, yakni bagaimana kandungan mineral tanah vulkanik Indonesia secara kimiawi membentuk profil rasa yang tidak bisa direplikasi di tempat lain.
Memenuhi kaidah jurnalistik yang utuh, dokumenter ini menghadirkan narasumber dari berbagai lini untuk memberikan perspektif yang berimbang (cover both sides):
• Perspektif Akademisi: Menjelaskan sejarah kelam tanam paksa (Cultuurstelsel) dan bagaimana kopi menyelamatkan ekonomi sekaligus menghancurkan kemanusiaan di masa lalu.
• Perspektif Budayawan: Membedah mengapa kopi menjadi instrumen sosial di warung-warung kopi, dari tempat diskusi politik hingga ruang rekonsiliasi.
• Perspektif Praktisi: Melibatkan barista dan penicip kopi (cupper) profesional untuk menjelaskan standar kualitas kopi Indonesia di pasar dunia..

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Sejak resmi dirilis pada 3 Juni 2014, Aroma of Heaven telah bertransformasi dari sekadar tontonan menjadi sebuah literatur visual yang esensial. Film ini berhasil membuktikan bahwa riset mendalam yang dimulai sejak tahun 2011 oleh Budi Kurniawan dan timnya bukan sekadar upaya dokumentasi teknis, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menjemput kembali identitas bangsa yang sempat terpinggirkan oleh industrialisasi. Melalui durasi 65 menit yang padat, penonton tidak hanya diajak menjadi saksi sejarah, tetapi juga dipaksa untuk merenungkan kembali relasi kita dengan alam melalui secangkir minuman yang kita nikmati setiap pagi.
Keberhasilan film ini menyabet gelar Best Documentary di Hainan, Tiongkok, serta Best Editing di Iran pada tahun 2015, menjadi penegasan bahwa narasi lokal tentang kopi Indonesia memiliki daya pikat universal. Ia adalah pengingat yang elegan bahwa kopi bukan sekadar gaya hidup urban atau tren semata; ia adalah simpul budaya, ekonomi, dan keimanan yang mengikat ribuan pulau di nusantara. Di tengah kepulan asap kopi, dokumenter ini meletakkan sebuah pesan kuat: bahwa untuk mencintai kopi Indonesia, kita harus terlebih dahulu memahami tanah tempatnya berpijak dan tangan-tangan yang telah merawatnya dengan penuh doa.
Aroma of Heaven adalah undangan terbuka bagi siapa saja untuk kembali “pulang” dan mengenal jati diri melalui aroma surgawi yang terpancar dari biji-biji hitam nusantara. Film ini menjadi standar baru bagi dokumenter agraris di Indonesia, yang mampu menyandingkan fakta sejarah yang getir dengan visualisasi puitis yang memanjakan mata. Bagi Anda yang ingin menyelami lebih jauh bagaimana kopi membentuk wajah Indonesia, dokumenter ini adalah gerbang terbaik untuk memulai perjalanan tersebut.
Informasi Dokumenter & Data Tejnis Film:
- Judul: Biji Kopi Indonesia (Aroma of Heaven)
- Tahun Rilis: 2014
- Produksi: Budfilm, Perum Produksi Film Negara (PFN), Traffic Production, GoodNews Film
- Cuplikan/Trailer Resmi: YouTube – Trailer Aroma of Heaven
- Sutradara: Budi Kurniawan
- Produser: Alexander S. Rusli, Nicholas Yudifar
- Rumah Produksi: Budfilm
- Durasi: 78 Menit
- Lokasi Syuting: Aceh, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Sulawesi Selatan, Flores
Sejak dirilis, Aroma of Heaven tidak hanya menjadi konsumsi pecinta film dokumenter, tetapi juga menjadi referensi penting dalam diplomasi budaya Indonesia. Film ini berhasil menyabet penghargaan Best Documentary di China International Coffee Festival dan diputar di berbagai forum internasional sebagai representasi identitas agraris Indonesia.
Produksi Budfilm ini berhasil membuktikan bahwa kopi Indonesia bukan sekadar komoditas yang dijual per kilogram, melainkan sebuah warisan budaya (cultural heritage) yang memiliki harga diri.
“Setelah menelusuri jejak sejarah dan filosofi dalam Aroma of Heaven, kini saatnya Anda menyentuh langsung keajaiban tanah Indonesia. Tenjobumi Kopi hadir bukan sekadar sebagai minuman, melainkan sebuah penghormatan bagi setiap butir biji yang tumbuh dari doa para petani. Mari rayakan warisan nusantara dalam setiap sesapan. Jelajahi koleksi biji kopi terbaik kami sekarang.” kata Mimin.









