100% Kopi Asli Tasikmalaya

Obrolan Kedai Kopi: “Kopi Kita Kena Imbasnya Juga Ya?”

Share

TENJOBUMIKOPI.COM Pagi itu, dingin masih menggigit tulang. Kabut tipis menggantung malas di antara pucuk-pucuk pohon dan lereng perbukitan Tasikmalaya. Di sebuah warung kayu sederhana beratap seng, dua sahabat,  Asep dan Dedi duduk berhadapan. Di meja mereka, dua cangkir kopi hitam panas mengepulkan aroma khas manis gurih bercampur bau tanah basah.

Asep mengaduk kopinya dengan sendok kecil. Bunyi denting logam beradu cangkir kaca memecah keheningan.

“Ded… kalau dipikir-pikir, hidup sekarang rasanya makin mencekik, ya?” ujar Asep pelan, matanya menatap uap kopi.

Dedi terkekeh tipis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu.

“Mencekik dari belah mana dulu, Sep? Pupuk langka dan mahal, listrik naik, biaya sekolah anak tak ada matinya. Mana ada yang turun sekarang?”

Obrolan hangat dari Tasikmalaya tentang keadilan fiskal bagi rakyat kecil
Obrolan hangat dari Tasikmalaya tentang keadilan fiskal bagi rakyat kecil

Asep mengangguk-angguk. “Itu dia. Di kampung kita, ngopi itu hiburan paling murah, Ded. Petani habis dari sawah, buruh bangunan, sopir angkot, sampai juru parkir semua duduk melingkar di warung ini, pesan kopi, ketawa bareng. Enggak ada bedanya. Tapi belakangan, kopi di warung pun harganya merayap naik.”

Dedi menyeruput kopinya perlahan, menikmati rasa pahit yang tertinggal di pangkal lidah.

“Kopi itu cuma muaranya, Sep. Biaya hidup mendesak dari segala arah. Rantai di belakang secangkir kopi ini yang jarang kelihatan orang luar.”

“Maksudmu?”

“Sebelum sampai di cangkir kita,” jelas Dedi sambil menunjuk cangkirnya, “ada petani yang memetik di tanah miring, ada yang mengupas, mengeringkan, membakar, membawa ke pasar Garut atau Tasik, baru sampai ke pemilik warung. Begitu ada biaya tambahan di perjalanan,entah itu bensin, sewa angkut, atau beban pajak,dampaknya merambat sampai ke meja ini.”

“Berarti… kalau di tingkat distributor atau pengumpul kena beban, ujung-ujungnya yang kena getok ya petani atau konsumen seperti kita?” tanya Asep menegaskan.

“Ya begitu hukum alamnya,” jawab Dedi singkat.

“Padahal petani kopi di lereng gunung ini hidupnya sudah serba pas-pasan,” gumam Asep.

Dedi tertawa lepas, walau ada nada getir di baliknya. “Memangnya kapan petani kita pernah hidup enak?”

Gelak tawa kecil sempat menyela obrolan mereka, namun dengan cepat berganti hening.

Bukan rahasia lagi, menjadi petani di Priangan Timur adalah ujian kesabaran. Lahan tergerus alih fungsi, cuaca tak lagi bisa ditebak lewat primbon tani, dan anak-anak muda lebih memilih berangkat ke Jakarta atau Bandung ketimbang memegang cangkul.

“Aku cuma takut satu hal, Ded,” Asep memecah keheningan.

“Apa?”

“Kalau sampai para petani kapok dan mikir kopi tak lagi ada untungnya.”

Dedi terdiam, pandangannya melempar jauh ke hamparan kebun di lereng bukit. “Itu ancaman nyata.”

“Soalnya kalau kebun kopi ditinggalkan, yang hilang bukan cuma kopi hitamnya, Ded.”

“Betul.”

“Lapangan kerja di kampung ikut amblas.”

“Betul.”

“Pohon-pohon penahan erosi di lereng ikut ditebang.”

“Sangat betul.”

“Dan hilang juga jati diri kita sebagai orang Priangan.”

Dedi mengangkat cangkir kopinya tinggi-tinggi. “Kopi itu penopang nafas desa, Sep. Makanya, kalau buat aturan atau kebijakan, mestinya yang di atas itu paham kondisi riil di bawah.”

“Pemerintah butuh pajak buat bangun jalan dan fasilitas, kita semua paham kok. Nggak ada yang menolak,” kata Asep. “Tapi mbok ya bedakan antara perusahaan perkebunan raksasa sama petani kecil yang tanamannya tumpangsari di tanah miring.”

Dedi tersenyum, menyetujui. “Itu poin utamanya: kebijakan fiskal harus punya empati pada ekosistem rakyat kecil.

Kalimat itu melayang begitu saja di udara.

Di sudut warung, seorang petani tua duduk sendirian. Wajahnya penuh garis kerutan, kulit tangannya kasar dan legam terbakar matahari. Ia sedang menikmati kopi hitamnya dalam-dalam.

Orang tua itu mungkin tak pernah membaca lembaran undang-undang perpajakan. Ia tak paham istilah fiskal, PPN Final, atau inflasi. Tapi ia sangat hafal luar kepala: berapa harga satu karung pupuk minggu ini, berapa ongkos sekolah cucunya, dan berapa lembar uang ribuan yang tersisa di dompetnya setelah memanen kopi.

Asep melirik petani tua itu. “Lihat Bapa itu, Ded…”

Dedi menoleh pelan. “Ya.”

“Kadang aku mikir, pembangunan yang beneran itu sederhana: dimulai dari kemampuan pejabat di atas sana untuk melihat dan meresahkannya seperti Bapa itu.”

Matahari mulai menerobos celah kabut, menyiram lereng perbukitan dengan cahaya keemasan. Kedua sahabat itu menghabiskan sisa kopi mereka tanpa kata-kata lagi.

Sebab pada akhirnya, perkara kopi di tanah Priangan bukan sekadar urusan angka, persentase, atau penerimaan negara. Ini tentang manusia-manusia tangguh di baliknya. Tentang petani yang terbangun sebelum azan Subuh, keluarga yang menggantungkan nasib pada tiap musim panen, dan mimpi sederhana agar negara hadir tidak hanya saat memungut hasil, tetapi juga saat rakyatnya butuh ditopang.

Featured