TENJOBUMIKOPI.COM – Lebaran mungkin sudah usai, tapi “drama” di meja tamu baru saja dimulai. Fenomena global (setidaknya di Indonesia) kembali terjadi: sebuah kaleng biskuit merah legendaris bergambar keluarga tanpa ayah, yang saat dibuka isinya bukan butter cookies, melainkan Rengginang.
Udara pagi di kaki Gunung Ciremai belum sepenuhnya hangat. Sisa embun masih menempel di kaca jendela, sementara aroma kayu bakar mulai samar-samar kalah oleh harum kopi tubruk yang baru saja diseduh di dapur. Di atas meja kayu yang sudah berumur, sebuah kaleng merah legendaris berdiri dengan gagah. Semua orang tahu, isinya bukan lagi biskuit impor, melainkan “harta karun” hasil jemuran matahari Majalengka minggu lalu.
“Sok atuh, meungpeung masih panas kopinya. Rengginangna nembe pisan digoreng tadi subuh,” suara Bapak memecah keheningan, sambil tangannya meraih satu keping rengginang terasi yang warnanya kemerahan godaan.

KRIUK.
Satu gigitan, dan suara renyahnya seolah membangunkan seluruh isi rumah. Remahannya yang kita sebut muruluk alias berjatuhan tanpa ampun ke atas meja, bahkan ada yang mendarat di kerah baju Bapak. Beliau tak peduli. Baginya, makin banyak remahan yang jatuh, makin sukses proses penjemurannya.
“Rengginang terasi Cirebonan mah beda, De. Bau lautna karasa, gurihna pas,” lanjut Bapak sambil meniup permukaan kopi hitamnya yang masih mengepul. Beliau kemudian melakukan ritual yang dianggap sakral: mencelupkan ujung rengginang ke dalam kopi hitam pekat itu selama tepat dua detik. Bapak nggak tahu jika memasukan unsur lain ke dalam kopi yang bertolak belakang bisa merubah rasa kopi. Tapi, Bapak nggak peduli, yang penting nikmat!.
“Nggak melempem, Pak, kalau dicelup gitu?” tanyaku ragu.
Bapak terkekeh, “Justru di situ seninya. Luarnya lembek kena kopi, tapi dalamnya tetap kriuk. Kayak hidup, di luar boleh kena cobaan sampai bonyok, tapi prinsip di dalam harus tetap kuat.”
“Atawa lamun nggak mau dicelup, balikkeun yeuh gelasna siga kieu!” ia menaruh pisin diatas mulut gelas kopi tubruk, lalu pleuk membalikanya tanpa tumpah.
Aku mengikuti jejaknya. Menyeruput kopi yang pahit-manis, lalu menyusulnya dengan gigitan rengginang bawang yang gurihnya jujur tanpa sandiwara. Di titik itulah aku paham kenapa orang-orang di tanah para wali ini begitu setia pada kombinasi ini.
Ini bukan cuma soal mengganjal perut. Ini soal merayakan remah-remah sederhana di sela obrolan pagi yang hangat. Di sela suara muruluk yang jatuh ke meja, ada nostalgia tentang kampung halaman, tentang aroma jemuran ketan di halaman rumah, dan tentang kebahagiaan yang tidak perlu mewah cukup di dalam sebuah kaleng bekas biskuit Lebaran.
“Beresin remahannya nanti, ya. Jangan sampai diomelin Ibu,” bisik Bapak sambil tersenyum lebar, sementara ujung kumisnya masih tertinggal sedikit ampas kopi.
Pagi itu, di Ciayumajakuning, dunia terasa cukup hanya dengan segelas kopi dan seisi kaleng rengginang yang rapuh.
Bagi masyarakat di kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, bahkan Ciamis), ini bukan sekadar salah isi, melainkan tradisi sarapan kelas berat yang sanggup menyaingi kemewahan croissant di kafe-kafe Jakarta.
Rengginang adalah simbol kerentanan yang nyata. Seperti hati yang tersentuh sedikit langsung baper, rengginang yang tersenggol sedikit langsung muruluk (berhamburan). Namun, di balik kerapuhannya, ada ledakan rasa gurih yang jujur. Memulai pagi dengan rengginang berarti belajar menerima kekacauan karena mustahil makan rengginang tanpa meninggalkan remahan di baju atau lantai.

“Trifecta” Rasa, Spektrum di Dalam Kaleng
Dalam satu kaleng Khong Guan pasca-Lebaran, biasanya tersimpan tiga varian maut:
- Original Bawang Putih: Si pembuka yang netral.
- Terasi Bold: Sang primadona dengan aroma tajam yang membuat kopi hitam terasa lebih “manis”.
- Manis Gula Merah: Penutup sempurna yang berfungsi sebagai dessert kearifan lokal.
- Original: Hanya garam, yang murni menyukai kebersihan hati!
Kopi hitam pekat atau kopi tubruk adalah pasangan jiwa bagi rengginang. Tekstur cair yang pahit bertemu dengan renyahnya ketan yang gurih menciptakan harmoni yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi sangat mudah dipahami oleh lidah orang Majalengka hingga Kuningan.
Jangan kecewa jika membuka kaleng biskuit dan menemukan rengginang. Ambil gelas kopimu, nikmati sensasi muruluk-nya, dan sadarilah bahwa kebahagiaan pagi ini tidak butuh sarapan berat seperti bubur ayam. Cukup sepotong ketan kering yang digoreng mekar, dan dunia pun terasa baik-baik saja.
Di balik kabut tipis yang menyelimuti lereng Ciremai, tradisi ini kian mengakar kuat karena wilayah Majalengka hingga Kuningan memang menjadi rumah bagi para petani kopi yang tekun merawat kebun di ketinggian. Kopi dari tanah vulkanik ini memiliki karakter rasa yang unik tegas namun bersahaja seolah diciptakan khusus untuk menjadi kawan setia rengginang yang gurih. Maka, ketika seorang petani duduk di teras rumahnya sambil memandang barisan pohon kopi miliknya, perpaduan antara hasil panen dari kebun sendiri dan camilan ketan dari dapur rumah bukan sekadar sarapan, melainkan sebuah penghormatan terhadap kekayaan bumi Ciayumajakuning yang mereka olah dengan tangan sendiri.









