TENJOBUMIKOPI.COM – “Orang itali menjuluki Kopi sebagai Wine of Arabic dan sampai saat ini ada jenis kopi Arabica dianggap Khamer nya orang muslim, karena sama sama menghilangkan masalah. Iyakah kopi ngilangin masalah, karena kini banyak hal tumpah ke kopi.” kata pengunjung kedai, sekedar memulai percakapan.
Tapi, justru ucapannya itu menarik karena bercampur antara sejarah, budaya, dan sedikit romantisasi “Coffee is the Wine of Arabia” memang dikenal sebagai julukan kopi sejak berabad-abad lalu. Ketika kopi pertama kali menyebar dari wilayah Arab dan Yaman ke dunia, orang Eropa melihat kopi sebagai minuman yang punya kompleksitas rasa, ritual sosial, dan nilai budaya yang mirip dengan wine. Karena itulah muncul istilah Wine of Arabia atau Wine of the Arabs.

Sedangkan soal kopi disebut “khamr-nya orang muslim”, menurut saya sih, lebih merupakan ungkapan budaya daripada istilah keagamaan. Dalam bahasa Arab, kata qahwa (kopi), orang Cibadak-Sukabumi menyebutnya Gahwa, bahkan pada masa yang sangat lama pernah digunakan untuk menyebut minuman yang “menghilangkan keinginan makan”, dan ada teori bahwa kata tersebut dahulu juga pernah dikaitkan dengan minuman fermentasi tertentu. Namun kopi sendiri tidak memabukkan seperti khamr.
Lalu, apakah kopi menghilangkan masalah? Tentu tidak, bisa juga iya dalam kasus tertentu. Tagihan tetap ada. Cicilan tetap menunggu. Mantan tetap menikah dengan orang lain. Tapi kopi punya satu kelebihan yang membuatnya terasa seperti penghapus masalah sementara:
- Memberi jeda sebelum bereaksi.
- Menjadi alasan untuk duduk dan berpikir.
- Menghadirkan teman ngobrol.
- Mengubah kegelisahan menjadi percakapan.
- Merubah kantuk jadi waspada
- Membuat percakapan jadi makin seru dan panjang
- Membuat beban yang sama terasa lebih ringan karena dibagi.
Kepala Kita Jadi Lebih Siap
Mungkin bukan masalahnya yang hilang, melainkan kepala kita yang menjadi lebih siap menghadapinya. Di kedai kopi, banyak orang datang membawa keresahan:
- Petani membawa cerita panen,
- Pekerja dan sales membawa target,
- Mahasiswa membawa skripsi,
- Pedagang membawa sepi pembeli.
- Couple bawa pertengkaran
Mereka pulang dengan masalah yang masih sama, tetapi sering kali dengan hati yang berbeda. Kopi tidak pernah menghilangkan masalah. Ia hanya menyediakan meja, kursi, dan waktu yang cukup agar kita bisa berdamai dengannya. Sebab beberapa masalah memang tidak selesai oleh gula, tetapi menjadi lebih ringan setelah ditemani secangkir Arabika.
Mungkin itu sebabnya kopi begitu dicintai bukan karena menyelesaikan hidup, melainkan karena menemani hidup. Kopi mungkin bisa dibiliang tempat penitipan masalah sementara. Masalahnya tidak hilang. Hanya ditumpahkan sebentar ke dalam cangkir, lalu diteguk lagi. Makanya kedai kopi sering terasa seperti ruang pengakuan dosa versi santai. Orang datang membawa isi kepala yang penuh, lalu menuangkannya sedikit demi sedikit, terutama jika kamu pilih seduhan V60 yang tersaji di kendi kaca server kopi dan gelas sloki.
“Siang ini, sudah ngopi? Ngopi yuk!” Kata ini adalah kata lain dari “Aku butuh teman!”
(Tulisan ini diketik di Warung kopi Yutaka, Ciponyo, Sukaratu ditemani secangkir Lungo dengan beans 70-30 Arabika-Robusta Tenjobumkopi, kamu bisa beli di SINI,KLIK!)









