TENJOBUMIKOPI.COM- Memasuki penghujung Februari 2026, jagat perkopian dunia sedang terbelah, Stok Global Melimpah, Harga Lokal Indonesia Enggan Turun. Di satu sisi, bursa komoditas internasional di New York dan London sedang lesu darah. Namun di sisi lain, para petani di pelosok nusantara justru sedang berjibaku dengan harga yang tetap melambung di tengah cuaca yang tak menentu.
Berikut adalah rangkuman situasi pasar kopi terkini yang dihimpun hingga 23 Februari 2026.
Pasar dunia saat ini sedang berada di bawah bayang-bayang rekor panen Brasil. Negara tersebut diprediksi akan memproduksi hingga 66,2 juta sak kopi tahun ini. Melimpahnya pasokan terutama Arabika yang naik 23% membuat harga di bursa internasional terjun bebas.
Jika dikonversi ke mata uang kita, harga kopi di pasar berjangka dunia saat ini berada di titik terendahnya:
- Arabika Internasional: Jatuh ke kisaran Rp106.500 per kg, titik terendah dalam 15 bulan terakhir.
- Robusta Internasional: Menyentuh angka Rp60.700 per kg, level terendah dalam setengah tahun ini.
Dolar yang kuat dan pulihnya stok di gudang-gudang Eropa semakin menekan harga global ke arah bawah.

Pasar Lokal Harga Petani Melawan Arus
Kondisi di dalam negeri justru berbicara lain. Meski harga di layar monitor bursa luar negeri memerah, harga di tingkat petani Indonesia tetap kokoh, bahkan cenderung naik tipis. Penyebab utamanya bukan lagi soal ekonomi, melainkan krisis iklim.
Suhu panas ekstrem yang terus bertengger di atas 30°C di wilayah sentra kopi membuat tanaman stres. Hasil panen yang menyusut menyebabkan barang menjadi langka di pasar domestik. Inilah yang membuat harga lokal seolah “kebal” dari penurunan global:
- Robusta Petani: Masih bertahan tinggi di angka Rp87.000 per kg. Secara tahunan, harga ini sebenarnya naik 15% karena sulitnya mencari barang.
- Arabika Lokal: Untuk kualitas standar, harganya berada di rentang Rp150.000 hingga Rp185.000 per kg.
- Kopi Premium (Gayo, Toraja, Mandheling): Tetap menjadi primadona dengan harga stabil di angka Rp220.000 hingga Rp300.000 per kg, bahkan bisa lebih untuk kualitas terbaik.
Dilema Eksportir dan Peluang Ritel
Situasi ini menciptakan posisi yang sulit bagi para eksportir kopi Indonesia. Mereka terjepit di antara harga beli petani yang mahal namun harus menjual dengan patokan harga global yang sedang murah.
Bagi konsumen akhir atau penikmat kopi, harga di pasar ritel saat ini bergerak sangat dinamis. Di toko-toko online maupun fisik, kopi dalam kemasan 1 kg dibanderol mulai dari Rp145.000 hingga Rp409.000 tergantung jenis dan proses pengolahannya.
Bank Dunia memproyeksikan harga Arabika secara keseluruhan bisa turun hingga 13% di sepanjang tahun 2026. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa harga bisa sewaktu-waktu melonjak kembali jika cuaca buruk tiba-tiba menghantam Brasil atau Vietnam. Bagi pelaku industri di Indonesia, kunci utama tahun ini bukan hanya memantau angka di bursa, tapi juga memperhatikan pergerakan awan dan suhu di atas perkebunan sendiri.
Di tengah pusaran angka yang fluktuatif ini, para pelaku industri kopi di tanah air kini berdiri di persimpangan jalan yang menantang. Para eksportir harus memutar otak lebih keras, terjepit di antara kewajiban menyejahterakan petani dengan harga beli yang tinggi dan keharusan bersaing di pasar global yang sedang banjir pasokan. Ketidakpastian ini menuntut strategi lindung nilai yang lebih mumpuni, agar napas bisnis tetap panjang meski selisih harga antara pasar domestik dan internasional kian menipis.

Bagi para pemilik kedai kopi dan penyangrai lokal, situasi ini adalah momentum untuk memperkuat narasi produk mereka. Mengingat harga biji kopi premium seperti Gayo dan Toraja masih kokoh di angka Rp220.000 hingga Rp300.000 per kg, edukasi kepada konsumen menjadi krusial. Penikmat kopi perlu memahami bahwa setiap cangkir yang mereka sesap bukan sekadar komoditas, melainkan hasil perjuangan petani melawan suhu ekstrem yang kini menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan rasa.
Melihat ke depan, bayang-bayang krisis iklim akan terus menjadi faktor penentu yang lebih dominan daripada sekadar laporan stok gudang di Brasil. Meski Bank Dunia memprediksi penurunan harga Arabika sebesar 13% sepanjang tahun 2026, realita di lapangan menunjukkan bahwa biaya produksi di tingkat hulu tidak akan pernah kembali ke level sebelum pandemi. Kita sedang memasuki era baru di mana kopi akan menjadi barang yang semakin mewah dan berharga karena kelangkaan alaminya.
Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa secangkir kopi adalah jembatan antara ekonomi global dan ekologi lokal. Saat bursa New York memerah, peluh petani di Lampung dan Sumatera tetap dihargai tinggi oleh keadaan alam yang menuntut empati. Mari terus memantau pergerakan ini dengan saksama, karena di balik setiap gejolak harga, selalu ada peluang bagi mereka yang mampu membaca arah angin dan menjaga kualitas tetap konsisten di tengah ketidakpastian.
Analisa Mengapa Harga Kopi Lokal Enggan Turun
Di tengah banjirnya pasokan dari Brazil yang membuat papan bursa New York dan London memerah, pasar kopi Indonesia seolah membangun bentengnya sendiri. Ada alasan-alasan mendalam baik secara ekologis maupun strukturalyang menjelaskan mengapa harga kopi di tingkat petani lokal kita seolah “tuli” terhadap penurunan harga global:
1. Cengkeraman Krisis Iklim dan Fenomena Suhu Ekstrem
Faktor utama yang paling nyata adalah cuaca. Suhu udara di sentra kopi Indonesia yang kini sering menembus angka 30°C bukan sekadar angka di termometer; bagi pohon kopi, ini adalah lonceng kematian.
- Stres Tanaman: Suhu yang terlalu panas membuat proses pembungaan terganggu dan buah rontok sebelum matang sempurna.
- Hukum Kelangkaan: Ketika hasil panen menyusut drastis, jumlah barang di pasar domestik menjadi sangat terbatas. Secara alami, kelangkaan ini memaksa harga tetap tinggi di kisaran Rp87.000 per kg untuk Robusta petani, meskipun harga dunia sedang lesu.
2. Struktur Rantai Pasok yang “Lapar” Stok
Indonesia memiliki ribuan penyangrai (roastery) lokal, dari skala mikro hingga industri besar. Kebutuhan konsumsi kopi dalam negeri terus meningkat pesat setiap tahunnya.
- Rebutan Barang: Ketika panen menipis, para pengolah kopi lokal harus berebut stok yang ada dengan para eksportir.
- Keunggulan Lokal: Karena tidak terikat kontrak berjangka serumit pasar internasional, pembeli lokal seringkali berani membayar lebih mahal demi mengamankan ketersediaan bahan baku kedai-kedai kopi mereka, sehingga harga di tingkat petani sulit untuk ditekan turun.
3. Biaya Produksi dan Tenaga Kerja yang Membengkak
Harga kopi bukan hanya soal bijinya, tapi soal manusia di belakangnya. Di tahun 2026, biaya hidup dan upah harian buruh petik di perkebunan terus merangkak naik.
- Pupuk dan Perawatan: Biaya perawatan kebun untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem (seperti sistem irigasi tambahan atau pupuk khusus) jauh lebih mahal.
- Margin Petani: Petani Indonesia memiliki daya tawar yang lebih kuat sekarang; mereka lebih memilih menahan stok di gudang rumah jika harga ditawar terlalu rendah, menunggu momen harga membaik kembali.
4. Kekuatan Brand “Kopi Spesialti” Indonesia
Kopi Arabika kita, seperti Gayo, Toraja, dan Mandheling, telah keluar dari kategori komoditas umum. Mereka telah menjadi produk gaya hidup dan prestise.
- Pasar Loyal: Penikmat kopi premium tidak terlalu peduli dengan fluktuasi bursa ICE di New York. Mereka mencari profil rasa yang unik.
- Stabilitas Harga Premium: Kualitas yang konsisten dan stok dunia yang tetap ketat untuk varietas spesifik ini menjaga harga di level Rp220.000 hingga Rp300.000 per kg. Produk ini tidak lagi bersaing dengan kopi massal Brasil, melainkan bersaing dalam ceruk pasar eksklusif yang harganya relatif stabil.









