100% Kopi Asli Tasikmalaya

Obrolan Kedai Kopi: Janji Sejahtera Pembangunan

Share

TENJOBUMIKOPI.COM – Selama puluhan tahun kita diajari percaya bahwa semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin dekat pula kita pada kesejahteraan. Kita diminta mengejar gaya hidup yang dianggap modern, memperbanyak konsumsi dan mengubah alam menjadi komoditas. Janjinya sederhana, dengan bekerja lebih keras, menghasilkan lebih banyak, maka surga kesejahteraan akan tiba.

Namun hingga hari ini, banyak yang masih bertanya, di mana surga yang dijanjikan itu?

Hutan berkurang, sungai tercemar, tanah kehilangan kesuburannya dan udara semakin sulit dihirup dengan lega. Kita mengejar kemakmuran sambil perlahan merusak sumber kehidupan itu sendiri. Ironisnya, yang disebut kemajuan sering kali dibayar dengan hilangnya ketenangan, kebersamaan, dan kelestarian alam.

Kopi Penyangga Hutan

Barangkali kesalahan terbesar bukan karena kita gagal mencapai surga yang dijanjikan, melainkan karena kita tidak menyadari bahwa surga itu telah ada sejak awal. Ia hadir dalam hutan yang lestari, air yang jernih, tanah yang subur, udara yang bersih dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Ketika semua itu rusak, yang hilang bukan sekadar sumber daya, melainkan surga yang sesungguhnya.

Ada sebuah pertanyaan yang sudah lama menjadi bahan renungan para filsuf, ekolog dan bahkan masyarakat adat di berbagai belahan dunia, “Apa yang dilakukan manusia yang tidak merusak alam?”

Secara jujur, hampir semua aktivitas manusia memiliki jejak terhadap lingkungan. Membangun rumah membutuhkan kayu, batu, logam, atau semen. Menanam pangan mengubah bentang alam. Bahkan berjalan, memasak, dan bernapas pun meninggalkan jejak, meski sangat kecil.

Yang menjadi persoalan bukanlah apakah manusia mengubah alam atau tidak. Manusia memang bagian dari alam dan selalu mengubah lingkungannya. Persoalannya adalah skala, kecepatan, dan cara kita melakukannya.

Seekor berang-berang membangun bendungan, tetapi sungai masih dapat pulih. Burung membuat sarang tanpa menghabiskan seluruh hutan. Sebaliknya, manusia modern mampu meratakan gunung, membendung sungai raksasa, menebang jutaan hektare hutan, dan menutup tanah dengan beton dalam hitungan tahun.

Gedung-gedung beton sendiri, tentu bukanlah musuh. Masalahnya muncul ketika pembangunan dianggap tujuan akhir tanpa memperhitungkan biaya ekologisnya. Untuk membuat beton diperlukan penambangan pasir, batu kapur, energi, transportasi dan lahan. Kota tumbuh, tetapi sawah hilang. Jalan bertambah, tetapi daerah resapan air berkurang. Di satu tempat tampak kemajuan, di tempat lain muncul kerusakan yang sering tidak terlihat.

Karena itu, sebagian pemikir lingkungan mulai menggeser pertanyaan dari “Bagaimana kita membangun lebih banyak?” menjadi “Berapa banyak yang sebenarnya cukup?”

Mungkin kebijaksanaan terbesar bukan membangun tanpa mengubah alam karena itu hampir mustahil melainkan hidup dengan kesadaran bahwa setiap yang kita ambil harus memberi kesempatan bagi alam untuk pulih kembali.

Masyarakat adat Sunda memiliki ungkapan yang menarik:

“Gunung kudu kaian, gawir kudu awian, lebak kudu sawahan, walungan kudu caian.”

Di sana pembangunan tidak dimaknai sebagai menaklukkan alam, melainkan menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Bukan mengejar pertumbuhan tanpa batas, melainkan menjaga keseimbangan agar anak cucu masih mewarisi dunia yang layak dihuni.

Ada sebuah pertanyaan yang lebih mengusik lagi, jika seluruh kebutuhan dasar manusia sebenarnya sudah tercukupi, mengapa kita masih terus membangun seolah-olah bumi ini belum pernah cukup?

Featured