TENJOBUMIKOPI.COM – Pernahkah Anda memperhatikan pola konsumsi di sekitar kita? Bayangkan sebuah warung kopi, kedai atau coffee shop di sudut jalan pada tengah malam kemungkinan besar isinya adalah sekumpulan laki-laki yang menyeruput kopi hitam panas sambil berdiskusi. Di sisi lain, bayangkan sebuah kedai seblak di sore hari hampir bisa dipastikan meja-meja terisi oleh perempuan yang sedang asyik menikmati kuah pedas merah membara sembari bercengkerama.
Fenomena ini tampak wajar dan alami dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah secara biologis lidah laki-laki memang dirancang untuk rasa pahit dan lidah perempuan untuk rasa pedas-manis?
Jawabannya adalah tidak. Pembagian ini bukanlah hasil dari kebutuhan biologis, melainkan produk dari konstruksi sosial, sejarah pemasaran dan mekanisme psikologis dalam mengelola stres.

Kopi Hitam dan Konstruksi Maskulinitas
Keterikatan laki-laki dengan kopi khususnya kopi hitam tanpa gula memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat:
- Simbolitas Budaya Kerja dan Ketahanan: Secara historis, kopi dipasarkan sebagai “bahan bakar” bagi para pekerja keras, tentara, dan eksekutif yang membutuhkan ketahanan fisik serta fokus tinggi untuk bekerja hingga larut malam. Citra maskulin yang tangguh dan produktif ini dilekatkan pada kafein.
- Ruang Publik (Budaya Warkop): Di Indonesia, warkop tradisional telah lama berfungsi sebagai ruang sosial pihak laki-laki. Di sinilah mereka berkumpul untuk membicarakan berbagai topik, mulai dari politik hingga olahraga. Minum kopi menjadi ritual wajib untuk memvalidasi keberadaan di ruang sosial tersebut.
- Stereotip Rasa: Ada narasi sosial yang mengasosiasikan rasa pahit dengan ketahanan dan keberanian. Laki-laki seolah “dituntut” mampu menikmati rasa pahit sebagai simbol kedewasaan atau ketangguhan.
Seblak, Matcha, dan Pelarian Emosional Perempuan
Di sisi lain, makanan dan minuman yang sering diidentikkan dengan Perempuan seperti seblak, boba, matcha latte, hingga cokelat memiliki latar belakang psikologis dan sensorik yang menarik:
- Mekanisme Emotional Eating: Makanan pedas dan gurih seperti seblak memicu pelepasan hormon endorfin dan dopamin di otak. Hormon-hormon ini memberikan efek rileks dan rasa senang secara instan. Oleh karena itu, makanan pedas sering menjadi pelarian utama saat mengalami stres, kelelahan, atau sindrom pramenstruasi (PMS).
- Kekayaan Tekstur dan Sensasi: Penelitian perilaku konsumen menunjukkan bahwa perempuan cenderung menyukai variasi tekstur dan kompleksitas rasa (gurih, kencur, pedas, kenyalnya kerupuk) dibandingkan sekadar pemenuhan rasa kenyang.
- Pemasaran Berbasis Estetika: Minuman seperti matcha atau boba dipasarkan dengan menonjolkan visual yang manis dan cantik (aesthetic). Industri kuliner secara konsisten mengarahkan produk-produk bernuansa manis dan estetik ini kepada konsumen perempuan sebagai bentuk self-reward.
Berbagi Kesusahan Ritual Sosial di Balik Makanan
Menariknya, baik kopi maupun seblak sama-sama berfungsi sebagai media koping stres (stress coping mechanism), hanya saja bentuk ekspresinya berbeda:
- Laki-laki dan Kopi: Menghadapi stres dengan cara kontemplatif atau diskusi fungsional. Kopi pahit menjadi teman untuk “melamun” atau membahas topik-topik luar diri.
- Perempuan dan Seblak: Menghadapi stres dengan cara ikatan emosional (bonding). Momen kepedasan bersama saat makan seblak menciptakan pengalaman “menderita bersama” yang mempererat hubungan sosial sambil berbagi cerita.
Saatnya Membebaskan Selera dari Gender
Pada akhirnya, lidah dan sistem pencernaan manusia tidak mengenal jenis kelamin. Laki-laki yang menyukai boba/matcha manis atau perempuan yang menikmati double shot espresso tanpa gula adalah hal yang sepenuhnya wajar.
Stereotip kuliner mungkin hanyalah hasil bentukan budaya dan iklan yang diulang-ulang.
Di era modern ini, seiring berkembangnya budaya specialty coffee dan ragam kuliner inklusif, batas-batas tersebut mulai mengabur. Karena pada dasarnya, setiap orang berhak menikmati rasa apa pun tanpa harus dibebani oleh label gender.
Jadi, lain kali kamu melihat cowok melamun sendirian sambil menyesap black coffee tanpa gula, atau rombongan cewek yang histeris kepedasan di depan semangkuk seblak kuah merah membara, ketahuilah bahwa mereka sebenarnya sedang melakukan hal yang sama: berjuang bertahan hidup dari tekanan dunia hanya saja yang satu memilih “menyiksa diri” lewat kepahitan rasa, dan yang satunya lagi lewat tingkat kepedasan yang tidak masuk akal!









