100% Kopi Asli Tasikmalaya

Cortado Dicintai di Spanyol, Masih Asing di Indonesia?

Share

TENJOBUMIKOPI.COM – Sebagai seseorang yang mendedikasikan sebagian waktu di hidupnya di balik mesin espresso, saya melihat ada seorang pegiat kopi yang menjelajahi setiap sudut roastery, hingga berdiskusi hangat dengan sesama pegiat kopi. Lalu, muncul satu pertanyaan menarik yang belakangan ini sering berputar di kepala saya.

Kenapa ya, racikan Cortado yang begitu diagungkan dan jadi nafas keseharian warga Spanyol, tapi malah seolah asing dan sepi peminat di kedai-kedai kopi lokal kita di Indonesia? Ini menarik, karena tidak seperti bahan dasarnya espresso yang notabene juga lahir di luar negeri.

Padahal, jika kita menelisik balik sejarahnya, Cortado bukan sekadar racikan espresso dan susu biasa. Ada cerita manis di balik setiap hisapannya.

Sebuah Solusi dari Barista Madrid

Mari kita melompat sejenak ke Spanyol pada pertengahan abad ke-20. Bayangkan atmosfer bar kopi lokal di sudut kota Madrid yang bising dan hangat. Para pecinta kopi di sana menghadapi satu dilema harian: mereka mengagumi karakter espresso yang kuat dan pekat, namun suhu ekstraksi yang sangat panas serta rasa pahit yang tajam sering kali membakar lidah dan terlalu menusuk.

Di sinilah keajaiban kecil itu lahir dari balik meja bar. Para barista menemukan racikan jenius dengan menambahkan sedikit susu hangat (warm milk) dengan rasio seimbang 1:1.

Tujuannya bukan untuk membuat kopi itu menjadi manis atau mengencerkannya, melainkan untuk “memotong” (cortar) sengatan suhu dan ketajaman rasa espresso tersebut. Dari kata cortar itulah lahir nama Cortado muncul, sebuah sebuah harmoni sempurna di mana karakter espresso tetap berdiri gagah, namun hadir dalam sapuan rasa yang jauh lebih lembut dan mulus di tenggorokan.

Dua Dunia, Dua Budaya Ngopi

Melihat betapa indahnya filosofi Cortado, wajar jika muncul rasa penasaran saya, Mengapa di Indonesia rasanya sulit sekali menemukan penikmat setia Cortado?

Sebagai salah satu orang yang sering memperhatikan dinamika meja barista saya melihat ini bukan soal siapa yang lebih paham kopi, melainkan tentang kebudayaan dan selera lokal yang memang berbeda.

  1. Quick Shot vs. Culture Nongkrong

Di Spanyol, Cortado adalah cangkir quick pick-me-up. Orang-orang berdiri di bar, memesan Cortado dalam gelas kaca kecil (sekitar 120 ml), meminumnya sampai habis dalam beberapa tegukan, lalu kembali beraktivitas. Tak jauh beda dengan kebiasaan orang Italia yang meminum espresso dengan waktu yang sangat singkat.

Di Indonesia? Budaya ngopi kita adalah budaya nongkrong atau WFH. Kita membutuhkan segelas kopi berukuran besar (seperti Latte, Flat White, atau Es Kopi Susu gula aren dengan ukuran lebih kurang 300 ml ) yang bisa menemani obrolan dua jam atau menyelesaikan tumpukan pekerjaan di laptop.

  1. Lidah Indonesia yang Menyukai Manis

Kita harus jujur bahwa mayoritas lidah konsumen kopi di Tanah Air menyukai profil rasa yang creamy, manis dan ramah di perut. Cortado yang dominan pahit-gurih dengan balutan susu tipis sering kali dianggap “terlalu keras” atau “kurang banyak”.

“Bang, bisa nggak dibuat lebih creamy latte ice-nya?” demikian pinta salah satu penikmat kopi di Warkop Yutaka, Ciponyo, Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Permintaan tersebut menjadi salah satu bukti pendukung jika orang Indonesia menyukai hal ini.

  1. Persepsi Menu di Kedai Kopi

Bagi kedai kopi lokal, menyajikan Cortado kerap kalah populer dibanding saudara kembar Australia-nya, Piccolo Latte. Tak heran, banyak coffee shop memilih untuk menyembunyikan atau bahkan meniadakan Cortado dari daftar menu utama mereka. Padahal, menurut saya pribadi dari nama sangat menarik dan cara penyajian tidaklah sulit serta rasa yang cukup bisa diterima lidah penikmat kopi.

Mengapa kopi identik dengan cowok dan seblak dengan cewek? Simak analisis ilmiah dan psikologis di balik stereotip gender kuliner serta fenomena stress coping mechanism ini!
Budaya ngopi kita adalah budaya nongkrong atau WFH. Untuk itu biasanya kita membutuhkan segelas kopi berukuran besar. (Credit foto: Okezone)

Menghargai Keberagaman Cangkir Kopi

Namun demikian, sebagai pencinta kopi, saya tidak pernah menganggap satu seduhan lebih mulia dibanding seduhan lainnya. Es kopi susu gula aren yang menyegarkan di siang terik Indonesia punya pasarnya sendiri, sebagaimana segelas Cortado hangat dalam gelas kaca di Spanyol memiliki jiwanya sendiri.

Hanya saja, jika nanti kamu datang ke coffee shop langgananmu dan melihat barista favoritmu sedang tidak terlalu sibuk, cobalah berbisik:

“Mas/Mbak, bisa buatkan saya Cortado?”

Keluarlah sejenak dari zona nyaman kopi manismu. Nikmati bagaimana sedikit susu hangat itu memotong tajamnya espresso tanpa menghilangkan jati dirinya. Siapa tahu, kamu justru menemukan cara baru dalam mencintai kopi.

Featured