TENJOBUMIKOPI.COM – Di bulan Ramadan, atmosfer kota-kota Muslim seketika berubah menjadi panggung spiritual yang berdenyut hingga fajar. Malam tak lagi menjadi waktu untuk terlelap, melainkan ruang bagi perjumpaan antara hamba dan Penciptanya melalui rangkaian Tarawih dan zikir yang panjang. Kini, setiap cangkir kopi yang kita nikmati saat sahur atau berbuka adalah warisan dari keteguhan para pencari Tuhan di masa lampau.
Di bawah naungan rembulan Ramadan yang menggantung di langit Timur Tengah, kedai-kedai kopi bertransformasi menjadi oase intelektual yang mereka sebut Mekteb-i ‘Irfan atau “Sekolah bagi Para Bijak”. Alih-alih menjadi tempat bualan kosong, kepulan uap kopi pasca-Tarawih justru menjadi pemantik diskusi mendalam mengenai teologi, sains, hingga sastra yang berlangsung hingga dentang waktu sahur.
Di sudut-sudut kota yang bermandikan cahaya lentera, kedai kopi berevolusi menjadi Mekteb-i ‘Irfan atau “Sekolah bagi Para Bijak”, sebuah ruang di mana kelas sosial melebur dalam kepulan uap kafein. Tempat ini bukan sekadar persinggahan untuk melepas dahaga, melainkan arena intelektual yang mempertemukan para ulama, penyair, dan pemikir bebas untuk membedah realitas di luar tembok istana. Di bawah pengaruh kopi yang mempertajam fokus, perdebatan mengenai filsafat dan keadilan sosial mengalir deras setara dengan tuangan cairan hitam ke dalam cangkir-cangkir keramik. Di sinilah, kopi membuktikan diri sebagai “bahan bakar” bagi pencerahan, mengubah sebuah kedai sederhana menjadi pusat gravitasi ilmu pengetahuan yang menantang dominasi kebodohan.

Para ulama dan penyair duduk bersila, menyesap cairan hitam pekat yang dianggap sebagai bahan bakar bagi ketajaman berpikir, menciptakan harmoni unik di mana spiritualitas dan rasionalitas bertemu dalam satu cangkir. Di sini, kopi bukan sekadar penahan kantuk, melainkan katalisator yang mengubah malam-malam suci menjadi festival gagasan yang mencerahkan jiwa.
Di tengah kekhusyukan itulah, aroma kopi mulai merayap keluar dari sudut-sudut masjid dan kedai, menjadi jembatan sosiologis yang menjaga mata tetap terjaga dan pikiran tetap jernih. Bagi masyarakat era itu, Ramadan bukan hanya bulan menahan lapar, melainkan festival cahaya dan aroma di mana cangkir-cangkir kopi menjadi saksi bisu atas gairah ibadah yang tak padam oleh rasa kantuk.
Sejarah mencatat bahwa kopi bukan sekadar komoditas dagang, melainkan instrumen ibadah bagi para sufi di pegunungan Yaman sejak abad ke-15. Bagi kaum asketis ini, cairan hitam pekat yang mereka sebut qahwa adalah “sahabat malam” yang berfungsi mengusir kantuk demi menjaga kekhusyukan zikir dan tahajjud. Efek stimulan kafein dipandang sebagai anugerah fisik untuk memperpanjang durasi sujud, sehingga kopi pun mendapat julukan sebagai “Anggur Islam” minuman yang memberikan gairah spiritual tanpa efek memabukkan seperti khamar.
Memasuki bulan Ramadan, peran kopi bertransformasi menjadi jantung kehidupan malam di kota-kota besar seperti Kairo dan Konstantinopel. Pasca-salat Tarawih, kedai-kedai kopi di sekitar masjid agung akan dipenuhi jamaah yang mencari asupan energi untuk melanjutkan tadarus hingga waktu sahur. Tradisi ini melahirkan fenomena Mekteb-i ‘Irfan atau “Sekolah bagi Para Bijak”, di mana kedai kopi menjadi ruang diskusi intelektual yang hidup di bawah naungan uap panas dan aroma biji kopi yang dipanggang.

Meski sempat menghadapi tentangan hukum pada 1511 di Mekkah karena kekhawatiran otoritas akan diskusi politik di kedai-kedai, popularitasnya tak terbendung. Beberapa tarekat bahkan menciptakan ritual khusus, seperti melantunkan asma Ya Qawi (Wahai Yang Maha Kuat) sebanyak 116 kali sebelum menyesap kopi, sebagai simbol permohonan kekuatan fisik untuk menunaikan ketaatan.
Kopi telah berevolusi dari sekadar penahan kantuk di sudut-sudut masjid menjadi simbol keramahtamahan global. Di balik kehangatannya, tersimpan fakta bahwa minuman ini pernah menjadi jembatan antara kebutuhan biologis manusia akan energi dan kerinduan spiritual untuk tetap terjaga di hadapan Sang Pencipta selama malam-malam panjang Ramadan.
Saat kita kini melangkah memasuki pekan kedua Ramadan, biarlah semangat para sufi yang memadukan kehangatan kopi dengan ketajaman zikir menjadi inspirasi bagi malam-malam kita ke depan. Di setiap sesapan kopi yang menemani heningnya malam, terselip harapan agar raga tetap tangguh bersujud dan jiwa tetap terjaga dalam puji-pujian yang tulus kepada Sang Pencipta. Selamat melanjutkan perjalanan di bulan suci; semoga setiap tegukan kopi Anda menjadi bahan bakar bagi ibadah yang khusyuk, mengubah rasa kantuk menjadi cahaya kesadaran yang menemani setiap tarikan napas zikir hingga fajar menyingsing.
“Secara historis, dominasi kopi dalam peradaban dipicu oleh peran pelabuhan Mocha di Yaman yang memonopoli ekspor global hingga abad ke-18, di mana permintaan sering kali melonjak hingga dua kali lipat setiap kali memasuki bulan suci. Data arsip dari era Kekaisaran Ottoman menunjukkan bahwa pada puncaknya, terdapat lebih dari 600 kedai kopi yang beroperasi di Konstantinopel, menciptakan struktur ekonomi baru yang bergantung pada arus biji kopi dari wilayah Selatan. Ketakutan otoritas akan dampak sosiologis minuman ini bukan tanpa alasan; catatan hukum di Mekkah pada tahun 1511 mendokumentasikan penyitaan massal biji kopi sebagai upaya meredam diskusi publik yang dianggap subversif. Angka-angka ini membuktikan bahwa kopi bukan sekadar tren konsumsi, melainkan kekuatan ekonomi dan politik yang mampu menggerakkan kebijakan negara serta mengubah pola interaksi manusia secara permanen.“









