TENJOBUMIKOPI.COM – Dinas Pertanian dan Perhutani KPH Tasikmalaya, mengatakan bahwa wilayah Tasikmalaya memiliki potensi lahan kopi seluas 62.000 hektar. Sebuah angka yang fantastis untuk skala kabupaten. Namun, ada kenyataan pahit yang disampaikan oleh penggiat kopi seperti Mamet Nugraha menunjukkan bahwa lana itu baru sekitar 3.000 hektar yang tergarap.
Banyak yang belum menyadari bahwa Kabupaten Tasikmalaya sedang duduk di atas “tambang emas hijau”. Jika selama ini kita hanya mengenal Tasik lewat kerajinan bordir atau wisata Galunggung, kini saatnya kita bicara tentang komoditas yang mampu mengubah postur APBD daerah secara radikal, yakni Kopi.
“Masih ada 95% lahan tidur yang belum memberikan kontribusi ekonomi bagi rakyat dan daerah. Mengapa Angka 62.000 Hektar Ini Sangat Seksi? Untuk memahami betapa besarnya potensi ini, mari kita bedah dengan data dan fakta pendukung lainnya,” kata Mamet dalam sebuah diskusi di tenjobumikopi.
Dengan demikian, artinya kita baru memanfaatkan kurang dari lima persen dari kapasitas total yang kita miliki, sementara sisanya masih berupa lahan tidur yang belum memberikan nilai tambah signifikan bagi kesejahteraan rakyat maupun kas daerah.

Ketimpangan antara potensi dan realisasi ini sebenarnya adalah peluang emas yang sedang menunggu momentum untuk meledak. Dengan ketinggian lahan yang bervariasi antara 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut, Tasikmalaya memiliki keunggulan geografis atau terroir yang sempurna untuk menghasilkan varietas Arabika berkualitas specialty di utara dan Robusta yang tangguh di selatan.
Jika kita membuat simulasi sederhana, rata-rata produktivitas kopi nasional yang berkisar antara 0,7 hingga 1,1 ton per hektar berarti bahwa dengan menggarap setengah saja dari potensi yang ada, Tasikmalaya mampu memproduksi puluhan ribu ton biji kopi setiap tahunnya.
Aliran dana yang tercipta dari rantai pasok ini mulai dari penjualan green bean, jasa sangrai (roastery), hingga pajak restoran dari menjamurnya kedai kopi lokal akan menjadi sumber PAD yang sangat besar dan berkelanjutan. Kopi bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan instrumen fiskal yang mampu mendanai pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan di daerah sendiri tanpa harus selalu bergantung pada dana perimbangan pusat.

Keunggulan Geografis (Terroir) Tasikmalaya memiliki topografi yang unik, mulai dari dataran tinggi di wilayah utara (kaki Gunung Galunggung) hingga perbukitan di wilayah selatan.
- Ketinggian: Sebagian besar lahan berada di atas 800-1.200 mdpl, syarat mutlak untuk menghasilkan kopi Arabika kualitas specialty.
- Varian: Tasikmalaya memiliki potensi untuk mengembangkan dua varietas sekaligus; Robusta di dataran rendah selatan dan Arabika di dataran tinggi utara.
Perbandingan Produktivitas Rata-rata produktivitas kopi nasional adalah sekitar 0,7 hingga 1,1 ton biji kering per hektar.
- Jika 30.000 hektar saja (setengah dari potensi) dikelola secara optimal, Tasikmalaya bisa menghasilkan sedikitnya 21.000 ton kopi per tahun.
- Dengan harga rata-rata green bean saat ini, perputaran uang di tingkat petani saja bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Potensi Pajak dan Retribusi (PAD) Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak hanya datang dari kebun, tapi dari rantai nilai (value chain):
- Pajak Restoran (PB1): Pertumbuhan kedai kopi lokal yang menyerap hasil tani sendiri.
- Sertifikasi Indikasi Geografis (IG): Jika Kopi Tasik memiliki sertifikat IG, nilai jualnya akan naik, dan daerah bisa menarik retribusi dari ekspor atau perdagangan skala besar.
- Agrowisata: Pengelolaan lahan hutan (LPHD) dengan skema agroforestri bisa menjadi destinasi wisata berbasis kopi yang menyumbang retribusi pariwisata.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa hambatan utama saat ini adalah:
- Akses Permodalan: Petani masih kesulitan mendapatkan kredit lunak untuk pembukaan lahan dan perawatan.
- Teknologi Pasca Panen: Menanam kopi itu mudah, tapi memprosesnya hingga menjadi standar ekspor butuh alat dan pengetahuan yang mahal.
- Regulasi Lahan: Diperlukan sinergi yang lebih cair antara Pemerintah Kabupaten dengan Perhutani agar izin pemanfaatan lahan hutan (IPHPS) tidak berbelit-belit bagi kelompok tani.
Untuk mengubah potensi menjadi realitas, Tasikmalaya butuh langkah agresif:
- Hilirisasi Industri: Jangan biarkan biji kopi keluar Tasik dalam bentuk mentah. Bangun pusat pengolahan (roastery) skala besar di Tasik agar nilai tambahnya tetap di daerah.
- Branding “Coffee of Tasikmalaya”: Kita butuh identitas. Kopi Tasik harus punya karakter rasa yang diakui dunia agar pembeli datang mencari kita, bukan kita yang memohon pada tengkulak.
- Koperasi Digital: Mengorganisir petani dalam koperasi modern yang terhubung langsung dengan pasar (B2B) untuk memastikan harga yang adil.

Potensi 62.000 hektar adalah sebuah “janji kesejahteraan”. Jika kita hanya berpuas diri dengan 3.000 hektar yang ada, kita melewatkan kesempatan emas untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai pusat kopi Jawa Barat. Sudah saatnya seluruh stakeholder bergerak. Kopi bukan lagi sekadar hobi atau tren musiman, melainkan tulang punggung ekonomi yang bisa membangun jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan di Tasikmalaya melalui PAD yang luar biasa.
Namun, untuk membangun raksasa ekonomi ini, Tasikmalaya tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara konvensional atau membiarkan petani berjuang sendirian di tengah keterbatasan modal dan teknologi pascapanen. Diperlukan keberanian politik dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, Perhutani, dan sektor swasta untuk membuka akses lahan melalui skema kemitraan yang transparan dan saling menguntungkan. Kita tidak boleh terjebak dalam pola lama yang hanya menjual kopi dalam bentuk mentah ke luar daerah, yang justru memberikan keuntungan besar bagi pihak lain.
Tasikmalaya harus berani melakukan hilirisasi industri dengan membangun pusat pengolahan mandiri dan menciptakan branding “Kopi Tasik” yang memiliki identitas rasa unik di mata dunia. Jika 62.000 hektar lahan ini mulai “berbicara” melalui produktivitas yang nyata, maka harum kopi yang tercium bukan lagi sekadar pengharum ruangan di kafe-kafe, melainkan aroma kemakmuran yang manis di dalam laporan keuangan daerah. Sudah saatnya kita berhenti membiarkan harta karun ini tertidur lelap dan mulai melangkah untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai episentrum baru kopi di Jawa Barat.









