TENJOBUMIKOPI.COM – Sebuah postingan di beranda kawan di Facebook mencuri perhatian. Bukan soal politik atau debat panas, melainkan sebuah tangkapan layar dari kitab klasik berjudul Tadzkir an-Nas. Postingan itu rupanya bersumber dari Kiai M. Faizi, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Madura, Jawa Timur yang memang dikenal sebagai ‘Begawan Kopi’ di kalangan santri dan sastrawan.
M. Faizi memang dikenal sebagai ‘kurator’ literasi kopi di kalangan pesantren. Beliau sering membagikan mutiara-mutiara tersembunyi dari kitab kuning yang membahas hal-hal keseharian seperti kopi, lalu mengemasnya dengan perspektif yang segar. Beliau adalah perwujudan nyata dari perpaduan antara intelektualitas pesantren, kedalaman spiritual (Sufi), dan budaya populer.

Berikut beberapa sisi menarik dari beliau yang sangat relevan dengan topik “kopi”:
- Kiai Faizi dikenal luas karena kegemarannya terhadap kopi. Beliau bukan sekadar peminum kopi, tapi juga seorang pengamat dan penulis tentang budaya kopi. Salah satu bukunya yang sangat terkenal adalah “Kopiana”. Beliau sering membedah kopi dari sisi filosofis dan sosiologis, menjadikannya jembatan antara tradisi luhur pesantren dengan gaya hidup modern.
- Penyair terkemuka dari Madura ini, karya-karyanya sering kali mengangkat hal-hal sederhana namun bermakna dalam, termasuk pengalamannya melakukan perjalanan terutama bis (sering disebut sebagai “Kiai Backpacker”). Ia mampu mengemas nilai-nilai agama dalam bahasa sastra yang cair dan tidak menggurui.
- Annuqayah sendiri adalah salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Madura yang dikenal sangat progresif, terutama dalam isu lingkungan hidup (peraih Kalpataru). Kiai Faizi membawa corak pemikiran yang terbuka dan kreatif dalam mendidik santri-santrinya di sana.
“Di dalam lektur-lektur klasik Islam, ditemukan beberapa riwayat yang berhubungan dengan kopi. Di antaranya adalah doa-doa setelah minum kopi. Namun, riwayat yang mengatur tertib bacaan Al-Fatihah sebelum minum kopi baru saya temukan satu ini. Sebelumnya, saya mendapatkan rujukan ini dari Muhammad al-Midbar yang (juga konon berasal dari bukunya), “Al-Qahwah al-Bunniyah”. Kemungkinan, jika ditelusuri, muara dari referensi tersebut akan bermuara di Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas. Dawuh-dawuh Sayyid Ahmad ini terkumpul dalam kitab “Tadzkir an-Nas”, Zawiyah Alydrus Al-Ilmiyah, Tarim, Yaman. (KET. teks foto tangkapan layar ini diambil dari Tadzkir an-Nas, hal. 118; tertib bacaan lanjutan dapat ditemukan di dalam kitab tersebut)” kata Kiai M.Faizi pada postingannya.
Melihat nama Kiai Faizi menyentuh teks tersebut, kopi di meja saya tiba-tiba terasa punya cerita yang lebih panjang dari sekadar proses sangrai dan seduh.

Jejak Literasi dalam Cangkir
Dalam teks yang dibagikan Kiai Faizi, terungkap bahwa di dunia pesantren, kopi bukan hanya penawar kantuk saat mengaji alfiyah. Ada adab dan doa yang melingkarinya. Kitab karya Habib Ahmad bin Hasan al-Attas tersebut mengajak kita mengirimkan Al-Fatihah sebelum sesapan pertama.
Tujuannya? Bukan untuk membuat kopi jadi sakti, melainkan untuk menyambungkan ruh kita dengan para Masyayikh (guru-guru) dan kaum salaf yang dulu menggunakan kopi sebagai bahan bakar ibadah malam.
Mari Mengaji Doanya
Jika Anda ingin mencoba mempraktikkannya, inilah teks doa yang viral lewat “sanad” medsos Kiai Faizi tersebut:
Teks Arab:
االفاتحة لمشائخ القهوة الُـبنِّية، ومن شربها بنية، من صالحي الصوفية: أن الله يتغشاهم بالرحمة والمغفرة، وأن الله بجاههم عليه ُيبلِّغنا كلَّ أمنية ويحفظنا من كلِّ أذية، ويُسهل أرزاقنا الحِسية والمعنوية، ويصلح جهاتنا الحضرمية وجميع بُلداننا الإسلامية ويصلح العمل والنية والعاقبة والذرية بجاه نبينا محمد خير البرية صلى الله عليه وسلم.
Lafal Latin:
Al-Fatihah li masyayikhul qahwatil bunniyyah, wa man syaribaha biniyyah, min shalihis shufiyyah: Annallaha yataghassyahum bir rahmati wal maghfirah, wa annallaha bijahihim ‘alaihi yuballighuna kulla umniyyah, wa yahfadhuna min kulli adziyyah, wa yusahhilu arzaqanal hissiyyata wal ma’nawiAl-Fatihah li masyayikhul qahwatil bunniyyah, wa man syaribaha biniyyah, min shalihis shufiyyah: Annallaha yataghassyahum bir rahmati wal maghfirah, wa annallaha bijahihim ‘alaihi yuballighuna kulla umniyyah, wa yahfadhuna min kulli adziyyah, wa yusahhilu arzaqanal hissiyyata wal ma’nawiyyah, wa yushlihu jihatinal hadhramiyyah wa jami’a buldaninal islamiyyah, wa yushlihul ‘amala wan niyyata wal ‘aqibata wadz dzurriyyah, bijahi nabiyyina Muhammadin khairil bariyyah, shallallahu ‘alaihi wa sallam.yyah…
Intisari Doanya:
“Al-Fatihah ini untuk para pelopor kopi dan orang-orang saleh yang meminumnya dengan niat baik. Semoga Allah merahmati mereka, dan dengan kemuliaan mereka, Allah menyampaikan cita-cita kita, menjaga kita dari gangguan, serta memudahkan rezeki kita, baik yang tampak maupun yang bersifat batin.”
Meneladani Adab, Menjemput Sehat
Satu hal yang menarik dari narasi kopi ala pesantren adalah kesesuaiannya dengan kesehatan. Sesuai tuntunan sunah yang juga dipraktikkan para kiai, kita diajarkan untuk tidak meniup kopi saat masih panas.
Kiai Faizi, dengan gaya membumi dan sastrawinya, seolah mengingatkan kita bahwa kopi adalah soal kesabaran. Menunggu uap panasnya hilang secara alami adalah momen “jeda” untuk kita membaca doa di atas, menata niat dan menyadari bahwa rezeki hari ini ada di dalam cangkir tersebut.
Ngopi Itu Ibadah
Melalui estafet informasi ini dari kitab Tadzkir an-Nas ke postingan Kiai Faizi, hingga ke layar ponsel Anda kita belajar satu hal, bahwa hal-hal yang kita anggap sepele di tangan orang saleh bisa menjadi jalan keberkahan.
Jadi, sebelum memulai seduhan hari ini, jangan lupa:
- Niatkan untuk kebaikan (kerja atau ibadah).
- Baca Bismillah dan kirim Al-Fatihah untuk para guru kopi.
- Jangan ditiup, nikmati aromanya sambil menunggu hangat.
Sebab, kopi yang diminum dengan adab akan mencerahkan pikiran, sedangkan kopi yang diminum dengan tergesa-gesa mungkin hanya akan menyisakan ampas di dasar cangkir dan di dalam hati. Selamat ngopi, selamat menjemput barokah!









