TENJOBUMIKOPI.COM – Di lereng Gunung Galunggung, di jalan pintas yang menyambungkan antara Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, di mana kabut sering kali turun dengan takzim menyelimuti lembah, Desa Parentas bersandar pada sunyi yang menyimpan banyak cerita. Sejak dipahat oleh sejarah pada tahun 1885, desa di Kecamatan Cigalontang ini bukan sekadar titik di peta, ia adalah biografi tentang cabgkir harapan. Manusia-manusianya adalah pengrajin hidup yang memilih untuk tetap tegak, meski badai zaman pernah mencoba mematahkan dahan kehidupan mereka.
Sejarah Parentas pernah melewati sebuah babak yang pekat. Di masyarakat setempat, masih tersimpan ingatan tentang sebuah pagi di bulan Agustus 1961 saat gempita kemerdekaan masih terasa hangat di dada. Namun, menjelang perayaan itu, sebuah kemalangan besar menyergap tanpa peringatan.
Peristiwa yang dikenang dengan nama yang getir, yakni “Cacar Bolang” pernah menghanguskan Kampung Baru (Kertapura). Lidah-lidah api mengubah tawa menjadi jerit tangis, menyisakan arang dan abu yang menyelimuti puluhan nyawa yang gugur.
Tragedi ini menjadi puncak dari masa-masa sulit yang memaksa warga memikul duka dalam kesunyian. Karena letaknya yang terpencil, mereka seolah memeluk luka itu sendirian, namun di sisi lain, isolasi itulah yang justru merekatkan ikatan batin antarsesama warga hingga menjadi sekuat akar pohon tua.
Emas Hitam di Ketinggian 1.500 MDPL
Namun, alam selalu punya cara untuk menebus luka. Tanah vulkanik yang pernah berselimut abu terakhir letusan Galunggung pada April 1982 itu rupanya menyimpan rahasia kesuburan tanah. Di ketinggian 1.100 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut ini, semesta menganugerahkan mineral tanah yang sempurna bagi kopi Arabika.
Dulu, kopi hanyalah tanaman pagar atau sekadar pengisi waktu senggang di pelataran rumah. Namun, menurut cerita warga setempat bahwa sekitar tahun 2019, sebuah kesadaran baru merekah untuk kembali menanam kopi dengan lebih serius.
Para petani lokal, dengan tangan-tangan yang akrab dengan tanah, mulai menyadari bahwa biji kopi mereka bukan sekadar komoditas, melainkan sebuah karya seni agraris.
Melalui proses natural yang telaten menjemur ceri kopi di bawah sinar matahari hingga kering sempurna lahirlah Kopi Parentas. Karakteristiknya jujur, tubuh kopi (body) yang tebal, rasa manis yang tertinggal di kerongkongan, serta hembusan aroma buah yang menyegarkan.
Transformasi Parentas adalah bukti bahwa ekonomi terkuat berakar pada kebersamaan. Nilai paguyuban yang diwariskan sejak abad ke-19 kini menemukan bentuk barunya. Desa ini bersolek menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman “farm to cup”.
Jika Anda berkunjung ke Parentas, Anda tidak hanya disuguhi pemandangan hijau yang menyejukkan mata, tetapi juga diajak menyesap kehidupan masyarakatnya yang hangat. Menginap di homestay penduduk juga bisa, berjalan di antara rimbun pohon kopi, hingga melihat kepulan asap dari sangrai tradisional, menjadi magnet yang memecah isolasi desa. Kopi telah menjadi jembatan yang menghubungkan kesederhanaan lereng gunung dengan dinamika dunia luar.

Tak jauh dari hamparan kebun kopi yang melegenda, alam Parentas menyembunyikan sepasang permata yang jatuh dari langit, di jalan yang Anda lintasi sebelumnya ada Curug Ciparay.
Dikenal sebagai air terjun kembar, ia berdiri megah dengan dua aliran air yang terjun bebas dari tebing tinggi, menciptakan simfoni gemuruh yang memecah kesunyian hutan. Butiran uap airnya terbang tertiup angin, menyapa wajah siapa pun yang datang dengan pelukan dingin yang menyegarkan.
Di sini, waktu seolah berhenti berdetak hanya ada hijau lumut yang menyelimuti bebatuan purba dan beningnya air yang mengalir lurus menuju muara, seolah menjadi saksi bisu betapa asrinya tanah ini dijaga oleh tangan-tangan penduduknya.
Menuju Curug Ciparay adalah sebuah perjalanan menyusuri jalan setapak yang menuntut raga untuk sedikit berlelah-lelah, namun setiap langkahnya dibayar tunai oleh pemandangan yang memanjakan mata. Kehadiran air terjun ini menyempurnakan narasi di wilayah ini sebagai tempat pelarian dari hiruk-pikuk dunia.
Ia bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari detak jantung desa yang menyuburkan tanah-tanah kopi di bawahnya. Menyesap segelas kopi hangat sambil menatap kabut yang sesekali menutup puncak air terjun ini memberikan pengalaman magis sebuah momen di mana manusia, sejarah, dan alam menyatu dalam satu tarikan napas yang damai.

Setiap cangkir Kopi Parentas adalah narasi tentang kemenangan atas trauma. Di dalam kehitaman cairannya, ada tetes keringat petani yang bangkit dari sisa-sisa abu masa lalu. Ada aroma harapan yang dulu sempat terkubur, kini mekar menjadi kebanggaan.
Parentas mengajarkan kita bahwa ketangguhan bukanlah tentang seberapa keras kita dihantam, melainkan seberapa indah kita mampu tumbuh kembali. Menikmati kopi ini berarti ikut merayakan sebuah kebangkitan; bukti bahwa dari tanah yang pernah terluka, bisa lahir rasa yang paling manis bagi dunia.
Perjalanan meninggalkan Parentas justru memberikan kesan yang tak akan mudah luruh dari ingatan. Menyusuri jalur ini bukan sekadar melintasi jalan penghubung tercepat antara Garut dan Tasikmalaya, melainkan sebuah pelesir visual yang membawa imajinasi melintasi benua dengan deretan perbukitan hijau yang berbaris rapi dan udara yang membelai sejuk, sudut ini seolah menjadi potongan kecil lanskap Eropa yang tersesat di tanah Pasundan.
Di balik kemudi, saat kabut mulai turun tipis di antara lembah, kita akan menyadari bahwa Parentas bukan hanya tentang rasa kopi atau sisa-sisa sejarah, melainkan tentang sebuah perjalanan pulang menuju ketenangan yang paling murni. Menikmati Parentas adalah tentang merayakan keindahan yang tumbuh dari ketangguhan, sebuah memoar hidup yang akan selalu memanggil kita untuk kembali.
Kini, rimbunnya kebun kopi di ketinggian 1.500 mdpl, hingga kembaran air terjun yang mistis itu tak lagi sekadar menjadi cerita yang tertahan di balik kabut. Anda diajak untuk meresapi setiap jengkal keajaiban Desa Parentas menyesap aroma bangkitnya sebuah desa dari jelaga masa lalu hingga merasakan dinginnya uap air Curug Ciparay semuanya terangkum dalam satu perayaan rasa. Mari singgah dan rayakan kehangatan suasana Parentas, di mana sejarah dan renjana berpadu sempurna, di tenjobumikopi.com.
BACA JUGA SEBELUMNYA: Parentas Di Bawah Selimut Kabut Galunggung, Berseminya Biji Harapan Petani









