100% Kopi Asli Tasikmalaya

No King! Obrolan Kedai Kopi Gugat Empati

Share

TENJOBUMIKOPI.COM – Demonstrasi “No King!” teriak mereka di jalanan Washington hingga gerbang kampus-kampus Ivy League, sebuah seruan yang merobek narasi bahwa kekuasaan absolut boleh menindas tanpa batas. Di jantung negara yang mendaku sebagai mercusuar demokrasi, rakyatnya sendiri mulai menyadari bahwa ketika pemimpin mereka bertingkah layaknya raja yang kebal hukum mendanai genosida dan menutup mata atas genangan darah di Gaza maka kontrak sosial itu telah batal.

Protes ini bukan sekadar urusan domestik Amerika, melainkan tamparan bagi siapa pun yang merasa memiliki hak istimewa untuk menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang boleh mati. Jika di Amerika saja orang-orang berani mempertaruhkan kenyamanan mereka untuk meneriakkan keadilan bagi jiwa-jiwa yang tak pernah mereka temui, betapa ironisnya jika kita yang mengaku bersaudara justru masih sibuk memilah-milih empati berdasarkan label mazhab dan sentimen geopolitik yang usang.

Di layar televisi yang tergantung kedai yang suaranya diredam, gedung-gedung beton runtuh menjadi debu dalam hitungan detik, sementara di layar ponsel kita, narasi perdebatan tentang validitas iman para korban jauh lebih riuh ketimbang doa-doa tulus. Dunia sedang menyaksikan genosida yang disiarkan langsung secara real-time, namun kita justru terjebak dalam labirin sentimen mazhab di mana bantuan dan pembelaan ditahan hanya karena mereka yang berdiri di garis depan perlawanan memiliki label Iran, Syiah, atau faksi-faksi yang tak selaras dengan selera politik kita.

Kita sedang berada di titik nadir kemanusiaan di saat peluru dan rudal tidak pernah menanyakan kartu anggota organisasi atau rincian teologi sebelum menghujam raga, kita justru sibuk menyisir sejarah konflik lama untuk mencari pembenaran agar bisa tetap diam. Seolah-olah darah yang tumpah di atas tanah mereka kehilangan kesuciannya hanya karena tangan yang membalut lukanya tidak sujud dengan cara yang sama seperti kita. Di sebuah kedai kopi malam itu suasana tidak seperti biasanya. Obrolan akan melompat dari skor Liga Inggris ke harga cicilan motor. Tapi malam ini, kepulan asap kopi terasa lebih sesak.

Obrolan kopi di kedai memanas: Saat bom jatuh, kita sibuk verifikasi iman. Di mana empati kita? Islam itu aksi nyata membela yang sedang tertindas.
Obrolan kopi di kedai memanas: Saat bom jatuh, kita sibuk verifikasi iman. Di mana empati kita? Islam itu aksi nyata membela yang sedang tertindas.

“Liat tuh di TV,” Bram menunjuk layar datar yang tergantung di pojok plafon dengan dagunya, suaranya parau tertimpa bunyi grinding biji kopi. “Gempuran lagi,” desis Bram. Suaranya serak menahan geram. “Iran sudah membalas, tapi orang-orang di medsos malah sibuk bilang ini cuma drama cuma sandiwara antar-rezim. Mereka bilang kita nggak boleh tertipu sama orang-orang ‘sesat’ itu.”

Hadi yang baru saja meletakkan buku saku di atas meja, berdehem. Ia membetulkan posisi duduknya. “Kita harus hati-hati, Bram. Geopolitik itu rumit. Apalagi ini urusan Iran. Kamu tahu sendiri sejarahnya. Kehati-hatian dalam akidah itu nomor satu. Kalau kita dukung pihak yang salah, apa nggak ikut menanggung dosanya? Kita harus verifikasi dulu keikhlasan mereka.”

Bram tertegun. Ia menatap Hadi, lalu beralih ke Gus Man yang sejak tadi hanya memutar-mutar cangkir kopinya yang tinggal separuh.

“Verifikasi?” Bram mengulang kata itu dengan nada getir. “Anak-anak hancur tertimbun beton dan kita di sini bertindak seolah-olah kita ini panitia surga yang memegang daftar absen iman? Harus nunggu mereka jadi malaikat dulu baru layak kita bela?”

Gus Man akhirnya mengangkat bicara. Suaranya tenang, tapi tajam seperti sembilu. “Di,” panggil Gus Man pada Hadi. “Ingat Usama bin Zaid?”

Hadi mengangguk pelan. “Tentu, Gus. Panglima kesayangan Rasulullah.”

“Usama pernah membunuh musuh yang sudah mengucap Laa ilaha illallah di ujung pedang karena ia yakin itu cuma taqiyah, cuma taktik biar nggak mati. Tapi apa reaksi Rasulullah? Beliau marah besar sampai dadanya bergetar. Beliau bertanya berkali-kali: ‘Apakah kamu sudah membelah dadanya untuk melihat isinya?’

Gus Man menjeda sebentar, membiarkan kalimat itu menggantung di tengah riuh mesin kopi. “Kita hari ini lebih ‘berani’ dari Usama, Di. Kita tidak perlu membelah dada siapa pun. Cukup dari balik meja kedai kopi yang nyaman, kita sudah berani memvonis hati satu bangsa, satu faksi, atau satu kelompok yang sedang dihujani bom. Kita berdiri bersebelahan dengan para pembunuh itu, ikut menudingkan jari yang sama, hanya karena mereka tidak satu barisan shaf dengan kita. Padahal, saat nyawa mereka melayang, syahadat yang mereka teriakkan sama dengan yang kita baca setiap tasyahud.”

Hadi menunduk. Sendok di tangannya berhenti berdenting. “Islam itu hadir bukan untuk dunia yang sedang tidur nyenyak, Di,” lanjut Gus Man. “Islam itu memilih pihak sejak hari pertama: pihak yang tertindas. Kalau kita masih sibuk cari-cari alasan mazhab untuk tidak peduli pada manusia yang dijagal, sebenarnya kita bukan sedang menjaga kesucian agama. Kita sedang membangun benteng agar rasa bersalah kita tidak menembus hati.”

Gus Man menyeruput sisa kopinya sampai tandas. Pahitnya menetap. “Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka benar-benar Muslim atau apakah Iran punya agenda tersembunyi,” Gus Man menutup pembicaraan sambil berdiri. “Pertanyaannya, setelah semua teriakan mereka yang kita abaikan dengan alasan kehati-hatian, apakah kita masih layak menyebut diri kita manusia, apalagi saudara?”

Mereka terdiam. Lalu, merenungkan tentang keberagaman mazhab dan ijtihad politik seharusnya menjadi hiasan dalam bangunan ukhuwah, bukan alasan untuk membiarkan fondasi kemanusiaan kita runtuh. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi penonton yang pasif di hadapan kezaliman, apalagi menjadi kritikus yang sibuk memeriksa sertifikat kesucian korban saat darah mereka sedang membasahi bumi.

Jika syahadat yang satu adalah pengikat batin yang paling asasi, maka apakah membiarkan ego sektarian menghalangi tangan kita untuk menolong adalah bentuk pengkhianatan terhadap esensi tauhid itu sendiri? Kita sering lupa bahwa di hadapan pengadilan Tuhan kelak, kita tidak akan ditanya tentang peta geopolitik atau rincian perdebatan teologis yang kita gunakan untuk bersembunyi, melainkan tentang di mana posisi kita saat saudara kita berteriak meminta perlindungan.

Bukankah Islam diturunkan sebagai Rahmatan lil ‘Alamin? Rahmat bagi semesta alam, bukan hanya bagi mereka yang kartu anggotanya sama dengan kita? Jika visi kerahmatan ini dipersempit hanya untuk membela yang sefrekuensi secara teologis, maka kita sedang mengerdilkan samudra kasih sayang Tuhan, rahman-rahim Allah Aza Wajalla menjadi kolam kecil yang eksklusif. Menjadi rahmat berarti menjadi pelindung bagi yang terzalimi tanpa menuntut kuesioner mazhab, karena setiap tetes darah yang tumpah adalah luka bagi kemanusiaan, dan setiap tangisan adalah panggilan bagi iman yang sejati untuk hadir sebagai penyembuh, bukan sebagai hakim yang sibuk memverifikasi luka.

Sejatinya, ujian keimanan kita hari ini bukan terletak pada seberapa fasih kita menghujat perbedaan, melainkan pada seberapa tulus kita merangkul duka sesama. Menunda keberpihakan kepada yang tertindas dengan alasan “kehati-hatian” hanyalah cara halus untuk mematikan nurani yang telah lama layu. Kita harus menyadari bahwa ukhuwah Islamiyah bukanlah kesepakatan untuk selalu sama dalam segala hal, melainkan janji untuk tidak pernah membiarkan satu pun bagian dari tubuh ini disakiti tanpa kita merasakan sakit yang sama. Pertanyaannya kini berpulang ke dalam dada masing-masing, apakah kita masih memiliki cukup cahaya di dalam hati untuk melihat saudaramu di balik kabut kebencian kelompok, ataukah kita sudah terlalu nyaman dalam kegelapan ego sampai-sampai tak lagi mengenali wajah saudara sendiri?

Featured