100% Kopi Asli Tasikmalaya

Budaya Minum Kopi Amerika dan Australia

Share

TENJOBUMIKOPI.COM – Hari ini saya menemukan sebuah postingan yang cukup menggelitik di sebuah timeline milik netizen di abroad. Isinya kira-kira begini: Australia adalah salah satu dari sedikit negara yang “menolak” Starbucks. Bukan karena regulasi, bukan karena demo, tapi karena orang Australia mengharapkan espresso yang lebih baik. Sementara Amerika, justru menjadikan Starbucks raksasa kopi dunia.

Lalu muncul kalimat penutup yang terasa menampar: “Ada perbedaan besar antara minum banyak kopi, dan benar-benar peduli dengan apa yang ada di dalam cangkir.”

Saya tersenyum membacanya. Dan mungkin juga sebagian dari Anda yang yang cukup lama tertarik dan tekuni dunia kopi, separuh dari diri Anda ingin mengangguk setuju. Tapi separuh lainnya berbisik, “Tunggu dulu, hidup tidak sesederhana itu, Boss.”

Sebab di dunia kopi, kita ini kadang terlalu hobi membuat kubu. Seolah ada negara yang “lebih makrifat” soal kopi, dan ada yang “selera kopinya receh.” Seolah peminum espresso murni adalah kaum tercerahkan, sementara peminum es kopi susu literan adalah domba yang sedang tersesat.

Padahal kopi bukan agama. Tidak ada surga khusus untuk peminum single origin washed process.

Mari kita bedah santai.

Kasus Australia ini seksi untuk dibahas. Ketika Starbucks masuk secara agresif pada awal 2000-an, realitanya tidak semanis strategi bisnis mereka. Banyak gerai mereka yang gulung tikar. Tapi apakah Australia benar-benar “menolak” Starbucks? Ya dan tidak.

Yang sebenarnya terjadi adalah masalah selera yang sudah terbentuk. Orang Australia sudah terlanjur dimanjakan oleh budaya espresso lokal yang kuat. Kafe kecil di pojok jalan pun bisa menyajikan flat white dengan standar yang luar biasa tinggi. Jadi, ketika ada raksasa korporat datang membawa rasa yang menurut mereka “biasa saja”, publik tidak terlalu terkesan.

Ilustrasi digital pemandangan jalanan kota yang sibuk di sore hari dengan deretan kedai kopi modern yang menjamur di sepanjang trotoar
Australia menolak Starbucks bukan berarti anti? Intip beda budaya minum kopi di Australia, Amerika, dan refleksi mendalam bagi penikmat kopi di Indonesia.

Sederhananya begini, kalau dari kecil Anda terbiasa makan Nasi Padang yang otentik dan kaya rempah di dekat rumah, lalu ada restoran waralaba besar buka dengan rasa standar tapi harganya tiga kali lipat, Anda mungkin cuma membatin, “Ya… biasa aja.” Bukan benci. Cuma tidak tertarik.

Dan, kalau bicara budaya kopi Indonesia yang mulai tumbuh dengan identitas kuat, Aceh terutama dataran tinggi Gayo layak masuk percakapan. Di sana, kopi bukan sekadar komoditas atau gaya hidup urban yang cantik di Instagram. Ia sudah menjadi bagian dari denyut sosial.

Di banyak sudut Aceh, warung kopi adalah ruang demokrasi kecil tempat petani, sopir, mahasiswa, tokoh kampung, sampai politisi duduk di meja yang sama, berdebat soal harga gabah, cuaca, politik, atau sekadar pertandingan bola.

Sementara di wilayah Gayo Highlands, ada kebanggaan yang sangat terasa terhadap kopi, kadang, bahkan bisa disebut Gayo-minded bahwa kopi dipahami bukan hanya sebagai hasil kebun, tetapi identitas keluarga dan warisan tanah.

Orang bisa berbicara serius tentang panen merah, elevasi, sampai karakter rasa, bahkan sebelum istilah specialty coffee populer di kota besar. Ironis sekaligus indah ketika sebagian kota sibuk menjadikan kopi sebagai tren, banyak orang Gayo sejak lama sudah hidup bersama kopi sebagai cara bertahan, cara berkumpul dan cara mengenali diri mereka sendiri.

Lalu bagaimana dengan Amerika? Nah, di sini kita sering kali tidak adil. Kita gampang sekali meledek budaya kopi Amerika: ukuran cangkir raksasa, guyuran sirup, kepungan whipped cream kopi rasa labu, kopi rasa Natal, hingga kopi rasa hidup yang penuh luka.

Tapi jangan lupa, Amerika pulalah yang melahirkan banyak tonggak penting dalam dunia specialty coffee modern. Gelombang ketiga (Third Wave Coffee), transparansi asal-usul biji kopi, eksperimen pasca-panen, hingga edukasi petani berkembang masif dari sana. Data beberapa tahun terakhir bahkan menunjukkan hampir setengah orang dewasa di Amerika mengonsumsi specialty coffee setiap hari.

Jadi, kalau ada yang bilang orang Amerika tidak peduli isi cangkir? Hmm… itu generalisasi yang terlalu malas. Masalahnya bukan mereka peduli atau tidak, tapi pasarnya teramat luas.

Di Amerika, ada orang yang memesan kopi komersial sekadar sebagai “bensin” agar tidak mengantuk saat rapat pukul delapan pagi. Tapi di sudut lain, ada juga yang rela berdebat 20 menit soal aftertaste floral, tingkat acidity, dan apakah kopi Ethiopia lebih ideal diseduh dengan V60 atau Kalita. Keduanya ada, dan keduanya sah.

Menariknya, setelah membaca perdebatan Australia vs Amerika itu, pikiran saya malah ingat Indonesia, bumi pertiwi kopi kita sendiri. Negara yang tanahnya melahirkan surga kopi Gayo, Toraja, Kintamani, Priangan, Flores tapi kadang, kita sendiri belum terlalu penasaran dengan apa yang kita sesap.

Kita bangga membusungkan dada sambil berkata, “Ini kopi Indonesia!” tapi kita tidak tahu siapa petani di baliknya. Kita gemar mengunggah foto latte art yang cantik, tapi tidak pernah bertanya apakah cerinya dipetik matang. Kita fasih membedakan Robusta dan Arabika, tapi di ujung lidah, definisinya masih sering disederhanakan menjadi: “yang penting pahit dan bikin melek.”

Dan sejujurnya, tidak apa-apa. Semua orang punya fase. Dulu, saya pun memandang kopi sekadar sebagai minuman penghalau kantuk. Yang penting mata terbuka, hidup tidak ikut tertutup. Sampai suatu hari tersadar bahwa secangkir kopi ternyata bukan cuma cairan hitam cair. Ia adalah sebuah cerita panjang yang kebetulan bisa diminum.

Di dalam cangkir itu, ada peluh petani yang merawat pohonnya. Ada kecemasan saat hujan telat turun. Ada fluktuasi harga pasar yang kadang kejam. Ada taruhan roaster yang berjudi dengan api dan waktu. Hingga akhirnya, ada barista yang mencoba menerjemahkan semua kerja keras hulu ke hilir itu menjadi sebuah simfoni rasa.

Sejak kesadaran itu muncul, saya berhenti berdebat tentang negara mana yang paling mengerti kopi. Pertanyaan yang jauh lebih menarik justru adalah saat kita memegang cangkir kopi hari ini, apakah kita benar-benar “hadir” di dalamnya? Atau kita cuma numpang lewat sebentar, lalu pergi tanpa sempat mengenalnya?

Sebab mungkin kutipan yang diposting netizen abroad itu ada benarnya, kalau negara penghasil kopi belum tentu budaya kopinya matang. Negara peminum kopi belum tentu paham isi cangkirnya. Namun di atas semua perdebatan itu, hal yang paling esensial adalah kemauan untuk mulai peduli. Sedikit saja dulu.

Bisa dimulai pagi ini, dengan melihat cangkir Anda lalu bertanya: “Kopi yang saya minum ini… sebenarnya datang dari mana?” Apakah itu dari daratan Sumatera, Bali, Sulawesi, NTT, atau Java?

Featured