100% Kopi Asli Tasikmalaya

Cerpen: Secangkir Kopi dan Tanda-Tanda Kehidupan

Share

TENJOBUMIKOPI.COM – Hujan baru saja berhenti ketika Diana memasuki sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan. Ia memilih meja dekat jendela, meletakkan tas, lalu membaca menu yang sebenarnya tidak terlalu ingin ia baca.

Seorang barista menghampirinya.

“Selamat sore. Mau pesan apa?”

“Americano.”

“Hot atau iced?”

“Yang mana lebih jujur?”

Barista itu terdiam sesaat. Lalu tersenyum.

“Kalau jujur, dua-duanya. Yang satu mengakui dirinya panas, yang satu tidak keberatan terlihat dingin.”

Diana mengangkat alis.

“Nama kamu?”

“Daniel.”

“Baiklah, Daniel. Satu Americano iced. Tanpa gula.”

“Siap. Tanpa gula, tapi belum tentu tanpa masalah.”

Diana tertawa kecil.

Satu cangkir kopi. Dua orang asing. Dan percakapan yang tak biasa. Daniel hanya seorang barista. Diana sekadar pelanggan yang memesan Americano tanpa gula. Namun, obrolan sederhana tentang pahit, manis, dan secangkir kopi perlahan berubah menjadi percakapan tentang kehidupan, tanda, dan makna di balik sesuatu yang sering kita anggap biasa.

Beberapa menit kemudian, Daniel datang membawa segelas Americano. Ia meletakkannya perlahan di atas meja.

“Silakan. Americano iced, tanpa gula.”

Diana menyeruput sedikit.

“Pahit.”

Daniel mengangguk.

“Memang.”

“Kenapa orang mau membayar sesuatu yang pahit?”

Daniel menarik kursi kecil di seberang meja, memastikan Diana tidak keberatan sebelum duduk.

“Karena manusia kadang tidak mencari sesuatu yang enak. Mereka mencari sesuatu yang terasa.”

“Bedanya?”

“Enak itu urusan lidah. Terasa itu urusan pengalaman.”

Diana memandang gelasnya.

“Jawabanmu terlalu serius untuk ukuran orang yang pekerjaannya menuangkan air panas.”

“Barista memang begitu, Mbak. Setiap hari kami berhadapan dengan air, api, tekanan, waktu, dan manusia yang punya banyak permintaan. Kalau dipikir-pikir, mirip kehidupan.”

“Jangan-jangan kamu juga meracik masalah?”

“Kalau itu, pelanggan biasanya bawa sendiri.”

Keduanya tertawa.

Siapa sangka, terkadang yang membuat seseorang ingin kembali bukan rasa kopinya, melainkan percakapan yang tertinggal setelah tegukan terakhir.

Diana kembali menyeruput kopinya.

“Kalau begitu, menurutmu, kenapa ada orang yang suka kopi manis?”

“Karena tidak semua orang ingin mengingat bahwa hidup punya rasa pahit.”

“Dan yang suka kopi pahit?”

“Mungkin mereka sudah berdamai. Atau justru belum menemukan gula.”

Diana tertawa lebih lepas.

“Kamu selalu punya jawaban seperti itu?”

“Tidak. Kadang saya juga bingung. Bedanya, kalau pelanggan bingung memilih kopi, saya bisa bantu. Kalau bingung memilih pasangan hidup, saya pura-pura sedang membersihkan mesin espresso.”

Diana menggeleng sambil tersenyum.

“Filosofis sekaligus pengecut.”

“Namanya juga manusia. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan ekstraksi.”

Diana kemudian menunjuk gelasnya.

“Daniel, kamu pernah belajar semiotika?”

“Sedikit. Kenapa?”

“Menurutmu, kopi ini tanda apa?”

Daniel memperhatikan gelas di hadapannya.

“Secara semiotik, kopi ini adalah penanda. Warnanya, aromanya, suhu, bahkan pahitnya menjadi sesuatu yang bisa dibaca. Tapi maknanya bergantung pada siapa yang meminumnya.”

“Contohnya?”

“Bagi orang yang sedang bekerja, kopi mungkin tanda produktivitas. Bagi orang yang sedang jatuh cinta, kopi bisa menjadi alasan untuk bertemu. Bagi orang yang kehilangan seseorang, kopi mungkin menjadi pengingat bahwa pernah ada dua cangkir di atas meja.”

Diana terdiam.

Daniel melanjutkan.

“Jadi, yang kita minum sebenarnya bukan hanya kopi. Kita sedang mengonsumsi makna yang kita sematkan sendiri.”

Diana menatap Daniel lebih lama dari sebelumnya.

“Kalau begitu, apa arti kopi ini buat kamu?”

Daniel tersenyum.

“Pengingat bahwa sesuatu yang pahit tidak selalu harus diperbaiki. Kadang cukup dipahami.”

Waktu berjalan tanpa terasa. Diana melihat jam tangannya. Ada janji yang harus ia datangi.

Ia berdiri, mengambil tas, lalu menghampiri meja kasir.

“Berapa semuanya?”

“Empat puluh ribu.”

Diana membayar, kemudian menoleh.

“Daniel.”

“Ya?”

“Terima kasih untuk kopinya.”

“Sama-sama.”

“Dan terima kasih untuk percakapannya.”

Daniel tersenyum.

“Semoga kopinya cocok.”

“Kopinya biasa saja.”

Daniel pura-pura tersinggung.

“Wah, itu penilaian yang cukup menyakitkan.”

“Tapi percakapannya luar biasa.”

Daniel tertawa.

“Berarti hari ini saya berhasil menjual sesuatu yang tidak ada di menu.”

“Apa itu?”

“Sudut pandang.”

Diana berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.

“Daniel, kalau besok saya datang lagi, kamu masih di sini?”

“Kalau tidak ada perubahan jadwal, iya.”

“Bagus. Besok saya mau pesan kopi yang manis.”

Daniel mengangguk.

“Siap. Mau pakai gula?”

Diana tersenyum.

“Belum tahu. Tergantung apakah hidup saya besok masih sepahit hari ini.”

Pintu tertutup.

Daniel kembali ke meja bar. Ia mengambil gelas kosong milik Diana, lalu tersenyum sendiri.

Di dunia semiotika, sebuah tanda bisa memiliki banyak makna. Tetapi hari itu Daniel belajar satu hal bahwa tidak semua pertemuan harus berlangsung lama untuk meninggalkan kesan. Kadang, seseorang hanya perlu satu cangkir kopi untuk membuat orang lain ingin kembali. Dan kadang, yang membuat kopi terasa istimewa bukan hanya bijinya, bukan pula sekedar teknik seduhnya. Melainkan, bisa saja seseorang yang kebetulan berada di balik meja bar.

Featured