100% Kopi Asli Tasikmalaya

Kopi Makin Digemari, Tapi Bisakah Kedai Sekadar Mengandalkan Ramainya Tren?

Share

Membaca tantangan bisnis kopi dan kafe di tengah pelemahan daya beli masyarakat, termasuk di Tasikmalaya.

TENJOBUMIKOPI.COM – Ada pemandangan menarik dalam beberapa tahun terakhir. Kedai kopi tumbuh di berbagai sudut kota. Dari konsep coffee shop modern, kedai sederhana di pinggir jalan, sampai tempat ngopi yang menyatukan kopi, makanan, ruang kerja dan tempat berkumpul.

Tasikmalaya pun mengalami dinamika serupa. Bisnis kopi tampaknya masih menjanjikan. Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan, apakah bertambahnya jumlah kedai kopi otomatis membuat bisnis setiap kedai semakin baik? Jawabnnya, belum tentu.

Survei BIG Consensus 2026 yang dipublikasikan Bisnis.com memberikan gambaran tentang kondisi dunia usaha Indonesia. Sebanyak 72,41% responden menyebut pelemahan daya beli masyarakat sebagai salah satu tantangan utama bisnis.

Sebanyak 48,28% menilai volume bisnis di sektornya stagnan, 34,48% mengalami penurunan, dan hanya 17,24% yang mencatatkan peningkatan.

Memang, survei tersebut mencakup berbagai asosiasi industri, bukan khusus bisnis kopi. Namun, temuannya relevan untuk membaca tekanan yang mungkin dirasakan pelaku usaha kuliner dan kedai kopi.

Anda mungkin tahu di mana ini? (credit foto: Idntimes.Jabar)

Pasar kopi tumbuh, tetapi konsumen semakin selektif.

Di Tasikmalaya, dinamika persaingan kedai kopi juga menarik untuk diperhatikan. Catatan penelitian yang menggunakan sumber Open Data Kota Tasikmalaya dan Radar Tasik menunjukkan peningkatan jumlah coffee shop yang tercatat dari 47 unit pada 2022 menjadi 289 unit pada 2024.

Banyaknya pilihan tentu memberikan keuntungan bagi konsumen. Mereka bisa memilih tempat berdasarkan harga, rasa, fasilitas, lokasi, hingga suasana. Namun, bagi pemilik kedai, bertambahnya pilihan berarti semakin penting untuk memiliki karakter dan nilai yang jelas.

Penelitian terhadap 117 pelanggan coffee shop di Tasikmalaya yang dipublikasikan pada Oktober 2026 bahkan menemukan bahwa kualitas fasilitas menjadi faktor paling kuat dalam keputusan pembelian di antara variabel yang diteliti, disusul pengaruh positif dari harga.

Artinya, secangkir kopi bukan lagi satu-satunya alasan seseorang datang ke kedai. Ada pengalaman yang ikut dibeli: kenyamanan, suasana, pelayanan, dan kesempatan untuk menikmati waktu.

Lantas, apa yang perlu dilakukan pelaku usaha? Mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang. Bukan sekadar berlomba membuka cabang, mempercantik interior atau menghadirkan menu baru. Pemilik kedai perlu lebih cermat membaca kebiasaan pelanggan.

Bisnis kedai kopi di Tasikmalaya menghadapi tantangan daya beli, persaingan, dan perubahan perilaku konsumen. Apa strategi bertahannya?

Apakah pelanggan masih rutin datang? Apakah mereka mulai mengurangi pesanan? Apakah menu makanan justru lebih diminati? Apakah harga yang ditawarkan masih sesuai dengan kemampuan pasar? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut bisa menjadi dasar untuk mengambil keputusan bisnis.

Kedai kopi juga perlu memahami bahwa efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas. Mengelola stok, menghitung biaya per sajian, menjaga konsistensi produk, dan memilih pemasok secara tepat justru menjadi bagian penting dari keberlanjutan usaha.

Di sinilah rantai pasok kopi lokal punya peran. Petani membutuhkan pasar. Roaster membutuhkan pelanggan. Kedai membutuhkan pasokan berkualitas. Konsumen membutuhkan produk yang sesuai dengan selera dan kemampuan belanjanya.

Semua saling terhubung. Karena itu, menjaga keberlangsungan kedai kopi lokal bukan hanya persoalan pemilik usaha. Ada ekosistem ekonomi yang ikut bergantung pada keberlangsungannya. Industri kopi nasional mungkin masih memiliki prospek besar. Tasikmalaya juga memiliki potensi sebagai daerah penghasil kopi sekaligus pasar bagi bisnis kedai dan kuliner.

Meskipun demikian ada hal menarik yang mungkin juga menjadi perhatian Anda, bayangka jika semua kedai kopi dan atau coffeeshop di Tasik ini menggunakan kopi Tasik!

Namun, tentu peluang industri ini tidak selalu sama dengan keuntungan setiap pelaku usaha. Sebab, bisnis kopi tidak cukup hanya pandai menyeduh. Ia juga harus pandai membaca pasar, menghitung biaya, memahami pelanggan, dan merawat hubungan. Ini bukan siapa yang paling cepat membuka kedai yang akan menentukan keberlanjutan bisnisnya.

Pertanyaannya, “Siapa dan apa yang mampu menjaga agar pelanggan punya alasan untuk kembali” Karena dalam bisnis kopi, bertahan bukan berarti berhenti bertumbuh. Kadang, bertahan adalah cara paling realistis untuk menyiapkan pertumbuhan berikutnya

Featured