TENJOBUMIKOPI.com – Sejarah mencatat Jejak Erupsi Galunggung dalam Sejarah dan Memori Kolonial, sebelum awan panas menyapu lerengnya pada 1822, wilayah di kaki Gunung Galunggung adalah salah satu lumbung emas hijau bagi Pemerintah Hindia Belanda. Kebijakan Preangerstelsel (Sistem Priangan) telah mengubah hutan-hutan di pedalaman Tasikmalaya menjadi hamparan perkebunan kopi yang sangat produktif.
Bagi kolonial, Galunggung bukan sekadar bentang alam, melainkan aset ekonomi yang vital. Namun, kemakmuran dari biji kopi tersebut terkubur seketika dalam hitungan jam ketika gunung tersebut meletus tanpa peringatan, mengubah kejayaan agraris menjadi kuburan massal di bawah lapisan abu dan lumpur.
Setiap sesap kopi yang Anda nikmati hari ini mungkin saja membawa jejak rasa dari tanah subur di lereng Galunggung, mulai dari hasil panen perkebunan di Kubangkoak, Parentas, Sariwangi, Ciakar hingga Hanoman.
Area-area ini, yang dahulu hancur lebur oleh amukan erupsi 1822, kini telah kembali menjadi bentang alam yang hijau dan produktif, di mana sisa-sisa abu vulkanik purba justru menjadi nutrisi utama yang memberi karakter khas pada biji kopi yang tumbuh di sana.
Keberadaan kopi-kopi ini seolah menjadi simbol ketangguhan alam dan manusia Sunda, yang mampu bangkit dari reruntuhan tragedi masa lalu untuk menyajikan kehangatan di atas meja kita sekarang.
Erupsi yang terjadi antara tanggal 8 hingga 12 Oktober 1822 ini mengakibatkan gugurnya 4.011 jiwa dan hancurnya 114 desa. Meski skalanya masif, peristiwa ini jarang diajarkan dalam kurikulum sejarah formal di Indonesia.
Pengabaian ini berakar pada cara kita menyusun hierarki kepentingan sejarah yang lebih memprioritaskan peristiwa politik daripada peristiwa alam.
Akibatnya, kurikulum kita cenderung melahirkan generasi yang fasih menghafal tanggal peperangan, namun buta terhadap anatomi tanah yang mereka pijak. Sejarah lingkungan dianggap sebagai pengetahuan pinggiran, padahal dalam konteks Indonesia, letusan gunung api bukan sekadar fenomena alam, melainkan faktor penentu yang mampu menghapus peradaban, mengubah peta demografi, dan membelokkan arus ekonomi dalam semalam.
Mengabaikan tragedi sebesar Galunggung 1822 dalam pengajaran formal berarti membiarkan masyarakat terus hidup dalam ketidaksiapan kolektif terhadap risiko bencana yang secara siklis bisa dipastikan akan berulang.
BACA JUGA: Pahitnya Aroma Kopi Priangan di Bingkai Sejarah
BACA JUGA: Produk Tenjo Bumi Kopi
Dominasi Perspektif Politik dan Perang
Kurikulum sejarah Indonesia didominasi oleh narasi perlawanan terhadap kolonialisme. Pada periode 1820-an, fokus sejarah tertuju pada persiapan Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Letusan Galunggung dianggap sebagai “kejadian alam” yang tidak mengubah arah kebijakan politik nasional secara langsung.
Padahal, dalam catatan kolonial, dampak sosialnya sangat nyata. G.A. Baron van der Capellen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, mencatat dalam laporan resminya mengenai skala kehancuran yang luar biasa di wilayah Priangan. Namun, karena tidak adanya elemen perjuangan kedaulatan, peristiwa ini tersisih dari bab utama buku sejarah sekolah.
Keterbatasan Sumber dan Kesaksian Ilmiah
Informasi mendetail mengenai peristiwa 1822 sebagian besar tersimpan dalam dokumen berbahasa Belanda. Salah satu kutipan penting berasal dari Dr. Thomas Horsfield, seorang ahli alam yang mendokumentasikan dampak vulkanik di Jawa. Dalam laporannya, ia menggambarkan betapa mendadaknya serangan tersebut:
“The eruption of Galunggung in 1822 was characterized by a suddenness that left no room for flight. The destruction of the surrounding districts was total, changing the topography of the region in a matter of hours.” (Horsfield, dalam catatan geologi Jawa).
Penulis dan peneliti alam Franz Wilhelm Junghuhn, dalam karyanya “Java, deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige structuur” (1853), juga memberikan gambaran mengenai kondisi pasca-letusan yang memutus garis keturunan banyak keluarga di sana karena desa-desa mereka tertimbun lumpur pekat.

Galunggung 1982 Tragedi yang Berulang
Dormansi panjang Galunggung kembali pecah pada Senin, 5 April 1982. Meski tidak memakan korban jiwa sebanyak tahun 1822 berkat teknologi mitigasi yang lebih maju, letusan ini berlangsung selama hampir sembilan bulan. Peristiwa ini mengguncang dunia penerbangan internasional ketika pesawat British Airways penerbangan 9 kehilangan tenaga pada keempat mesinnya setelah terbang menembus awan abu vulkanik Galunggung. Letusan ini mengakibatkan sekitar 60.000 penduduk harus diungsikan dan menghancurkan sektor pertanian di Tasikmalaya selama bertahun-tahun akibat hujan abu yang tebal.
Secara visual dan dokumentasi, letusan 1982 jauh lebih terekam dalam ingatan publik modern karena bantuan media massa. Namun, jika dibandingkan, letusan 1822 jauh lebih destruktif dalam hal hilangnya nyawa manusia. Kehilangan ribuan jiwa pada 1822 seharusnya menjadi fondasi sejarah mitigasi bencana kita, namun ia tetap menjadi catatan kaki yang sunyi dalam buku-buku teks sejarah.
Erupsi Galunggung, baik tahun 1822 maupun 1982, adalah bukti bahwa narasi sejarah kita masih sangat sentris pada peristiwa buatan manusia. Memasukkan tragedi ini ke dalam pendidikan bukan hanya soal menghargai para korban, tetapi juga memberikan perspektif bahwa sejarah sebuah bangsa juga dibentuk oleh interaksinya dengan alam yang dinamis.
Mengingat kembali Galunggung bukan sekadar upaya merawat luka lama, melainkan cara kita menghargai napas kehidupan yang terus berlanjut di atas tanah yang pernah membara. Ribuan nyawa yang hilang pada 1822 dan ribuan lainnya yang terpaksa mengungsi pada 1982 adalah pengingat bahwa kita hanyalah tamu di punggung raksasa yang sewaktu-waktu bisa terjaga.
Namun, di balik nisan-nisan tanpa nama dan desa-desa yang terkubur, tanah ini tetap memberi kehidupan melalui air yang mengalir ke sawah-sawah Priangan hingga aroma kopi yang menemani pagi kita. Sejarah ini selayaknya tidak lagi menjadi catatan kaki yang sunyi, agar kita tidak hanya mewarisi kesuburannya, tetapi juga kearifan untuk tetap waspada dan bersahabat dengan alam yang menghidupi kita.
Keyakinan bahwa Galunggung merupakan pusat “Emas Hitam” dan komoditas berharga di masa lalu diperkuat oleh keberadaan infrastruktur kereta api yang masif di wilayah sekitarnya, seperti Stasiun Tasikmalaya yang menjadi titik nadi distribusi utama. Keberadaan stasiun besar dan jalur rel ini bukan sekadar sarana transportasi penduduk, melainkan bukti nyata adanya mobilisasi ekonomi skala besar untuk mengangkut hasil bumi yang melimpah mulai dari kopi kualitas terbaik hingga rempah-rempah menuju pelabuhan ekspor.
Logika kolonial sangat sederhana: mereka tidak akan membangun jalur kereta api yang mahal dan rumit menembus medan pegunungan jika tanah Galunggung tidak menjanjikan kekayaan alam yang mampu menutup biaya investasi tersebut berkali-kali lipat.
(Dari berbagai sumber)
Follow dan like: Fan Page Tejo Bumi Kopi di Facebook









