100% Kopi Asli Tasikmalaya

Mengapa Disebut Kopi Arabika?

Share

TENJOBUMIKOPI.COM – Mengapa Kopi awalnya dari Ethiopia lalu disebut Arabika? Sebuah ironi sejarah yang manis, bukan? Seperti menemukan sebuah naskah kuno yang salah mencantumkan nama penulisnya di sampul depan, namun isinya tetap memikat seluruh dunia.

Mari kita menyusuri jejak aroma ini kembali ke masa lalu. Secara botani, tanah kelahiran kopi memanglah dataran tinggi Ethiopia. Di sana, tanaman ini tumbuh liar, memeluk bayang-bayang pohon besar di hutan Kaffa. Namun, mengapa dunia justru menyematkan nama semenanjung yang gersang di seberang lautan padanya?

Dunia botani sering kali menyimpan ironi dalam tatanama ilmiahnya, dan tidak ada yang lebih mencolok daripada Coffea arabica.

Secara genetika dan asal-usul, kopi ini adalah putra kandung dataran tinggi Ethiopia. Namun, sejarah tidak selalu ditulis oleh sang penemu, melainkan oleh mereka yang membawanya ke panggung dunia. Dan, penyebutan Arabika adalah warisan dari rantai dagang dan keterbatasan literatur masa lampau yang terlanjur membatu menjadi fakta umum.

Jika Specialty Coffee adalah panggung pertunjukannya, maka Strain adalah aktornya. Aktor yang hebat (bibit unggul) jika ditempatkan di panggung yang megah (tanah yang subur/terroir) dan diarahkan oleh sutradara yang mumpuni (roaster yang ahli), maka akan tercipta sebuah simfoni rasa yang tak terlupakan.
Mengusik nama “Arabika” saat ini mungkin akan terasa seperti mencoba mengganti nama “Bulpen” menjadi “Pena Bola”

Alasan pertama bersifat komersial.

Pada abad ke-15, pelabuhan Mocha di Yaman menjadi satu-satunya gerbang keluar bagi biji kopi menuju pasar global. Ethiopia memang rahim tempat kopi lahir secara liar, namun Yaman adalah sekolah tempat kopi didomestikasi dan dibudidayakan secara sistematis.

Karena bangsa Eropa pertama kali mengenal minuman hitam ini melalui tangan para pedagang Arab, mereka secara otomatis melabelinya sebagai Arabic coffee. Bagi dunia luar saat itu, Ethiopia adalah pedalaman yang misterius, sementara semenanjung Arab adalah pusat peradaban yang berinteraksi langsung dengan mereka.

Alasan kedua bersifat akademis.

Ketika Carolus Linnaeus, bapak taksonomi modern, menyusun sistem klasifikasi makhluk hidup pada tahun 1753, ia menetapkan nama Coffea arabica.

Dasar penamaannya sederhana namun keliru, yakni spesimen tanaman yang ia teliti berasal dari kebun-kebun di Yaman. Tanpa pengetahuan bahwa kopi tersebut sebenarnya hasil translokasi dari seberang Laut Merah, Linnaeus mematri nama Arabika ke dalam literatur ilmiah.

Dalam dunia sains, sekali sebuah nama resmi dipublikasikan dan diterima secara luas, ia cenderung menetap meski bukti sejarah baru ditemukan di kemudian hari.

Terakhir, ada faktor sosiokultural.

Di bawah kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah, kopi menjadi identitas sosial yang kuat. Budaya kedai kopi (qahveh khaneh) lahir dan meledak di dunia Arab sebelum menyebar ke Eropa. Identitas ini begitu melekat sehingga nama tanaman tersebut tidak lagi merujuk pada koordinat geografis asalnya, melainkan pada budaya yang mempopulerkannya.

Penyebutan Arabika adalah pengakuan terhadap peran bangsa Arab sebagai jembatan peradaban kopi. Ethiopia mungkin memiliki hak biologis atas tanaman ini, namun sejarah telah memberikan hak penamaan kepada pihak yang berhasil mengubah buah hutan menjadi komoditas global.

Arabika tetaplah Arabika, sebuah nama yang salah secara lokasi namun benar secara narasi sejarah perdagangan dunia. Bagaimana menurut Anda, apakah kejayaan Ethiopia sebagai ibu kandung kopi perlu lebih sering disuarakan dalam pemasaran kopi modern, ataukah nama Arabika sudah terlalu ikonik untuk diusik?

Mengusik nama “Arabika” saat ini mungkin akan terasa seperti mencoba mengganti nama “Bulpen” menjadi “Pena Bola” secara teknis lebih akurat, namun lidah kolektif dunia sudah terlanjur nyaman dengan sebutan lamanya.

Kopi adalah upah bagi mereka yang terlalu penasaran untuk tidur, namun terlalu cerdas untuk membiarkan ide-ide besar menguap begitu saja bersama mimpi
Kopi awalnya dari Ethiopia, nama ilmiah Coffea arabica baru resmi dikukuhkan pada tahun 1753 oleh bapak taksonomi modern, Carolus Linnaeus.

Ada semacam kesepakatan tak tertulis di antara para pencinta kopi, Arabika adalah nama panggungnya, namun Ethiopia adalah jiwa di dalamnya.

Dalam dunia kopi spesialti modern, pemahaman ini justru melahirkan sebuah penghormatan yang unik. Meskipun label di kemasannya bertuliskan Arabika, para pemanggang kopi (roasters) dan barista hampir selalu mencantumkan asal-usul spesifiknya dengan bangga seperti Guji, Sidamo, atau Yirgacheffe. Itu adalah cara halus untuk berkata, “Ini memang Arabika, tapi ingatlah, ia pulang ke akarnya di tanah Ethiopia.”

Lucunya, sejarah memang sering kali salah memberikan nama namun benar dalam memberikan rasa. Arabika telah menjadi sebuah brand global yang melampaui batas geografis. Ia bukan lagi sekadar merujuk pada sebuah bangsa, melainkan pada sebuah standar kualitas: tentang aroma yang floral, keasaman yang cerah, dan kompleksitas rasa yang tak tertandingi oleh jenis kopi lainnya.

Ethiopia tidak kehilangan identitasnya. Sebaliknya, ia tetap berdiri tegak sebagai sejarah bagi siapa pun yang ingin menyesap sejarah kopi yang paling murni. Nama Arabika hanyalah jubah yang ia kenakan saat melanglang buana ke seluruh penjuru bumi.

Stok kopi arabika-mu sekarang! Janagn sampai abis!

Featured