TENJOBUMIKOPI.COM – Bagi Anda, seorang penikmat sejati, aroma kopi yang mengepul lembut dari cangkir adalah sebuah pelukan hangat bagi jiwa yang lelah. Ia seperti bisikan pagi yang menenangkan, atau teman setia di malam yang panjang. Namun, ketika Ramadan tiba, ada seni menyesap kopi setelah puasa, hubungan intim kita dengan kafein ini memerlukan sedikit seni “negosiasi” yang bijaksana.
Setelah tubuh berpuasa selama belasan jammenahan lapar, haus, dan godaan ia membutuhkan transisi yang lembut, bukan kejutan mendadak yang bisa menghentak sistem pencernaan dan energi kita.

Mengapa Harus Bersabar di Waktu Magrib?
Godaan terbesar sering muncul tepat saat azan Magrib berkumandang langsung menyeduh dan menyesap kopi pekat sebagai pembuka berbuka.
Namun, bayangkan lambung Anda seperti sebuah rumah yang telah sunyi dan kosong selama lebih dari 13 jam. Menyiramnya seketika dengan kopi hitam pekat ibarat mendobrak pintu dengan kasar, bukan menyambut tamu dengan hormat.
Kopi, terutama karena kandungan kafein dan senyawa asamnya, secara alami memicu produksi asam lambung yang lebih tinggi.
Jika perut masih melompong tanpa “bantalan” makanan, asam ini tak punya pekerjaan lain selain mengiritasi dinding lambung yang sensitif. Akibatnya? Rasa perih di ulu hati, mulas, kembung, hingga gangguan pencernaan yang bisa mengganggu kekhusyukan salat Tarawih atau ibadah malam lainnya.
Seperti dijelaskan oleh dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH (spesialis penyakit dalam),
“Konsumsi kopi saat berbuka boleh saja bagi mereka yang tidak memiliki masalah lambung. Namun, bagi pengidap gastritis atau penyakit asam lambung, minuman berkafein ini bisa memicu risiko gangguan pada lambung.”
Ia menyarankan untuk minum kopi setelah perut sudah terisi makanan, agar tidak merangsang gangguan lambung secara berlebihan.

Strategi “Bantalan” dan Golden Moment
Rahasia menikmati kopi tanpa drama pencernaan adalah memberikan “bantalan” pelindung bagi lambung terlebih dahulu.
Mulailah berbuka dengan segelas air putih suhu ruang (atau hangat) untuk membatalkan puasa secara lembut, sekaligus mendinginkan tubuh yang telah bekerja keras seharian. Lanjutkan dengan sedikit makanan manis alami seperti kurmasumber energi cepat yang juga kaya serat dan mineraluntuk membangunkan metabolisme secara perlahan.
Waktu emas untuk menyesap cangkir kesayangan Anda adalah 1 hingga 2 jam setelah makan berat berbuka. Pada saat itu, makanan telah melapisi dinding lambung dengan baik, sehingga kafein tak lagi menjadi tamu agresif yang memicu asam berlebih, melainkan kawan menyenangkan yang menemani obrolan malam, tadarus Al-Qur’an, atau momen refleksi spiritual.
Ahli gizi Rita Ramayulis, DCN, M.Kes dari PERSAGI, menegaskan hal ini:
“Kalau kopi kita minum ketika berbuka puasa risikonya peningkatan asam lambung, kalau kita konsumsinya sahur sifatnya diuretik, jadi kita lebih cepat mengalami dehidrasi.”
Ia merekomendasikan mengonsumsi kopi sekitar 1-2 jam setelah berbuka, ketika lambung sudah lebih siap dan tidak bereaksi berlebihan terhadap peningkatan asam.

Hidrasi sebagai Penyeimbang Ritual Ngopi
Kopi memang memiliki sifat diuretik alamiia mendorong tubuh mengeluarkan cairan lebih cepat melalui urin. Di bulan puasa, di mana tubuh sudah kehilangan banyak cairan sepanjang hari, efek ini bisa membuat kita “kering” lebih dini, menyebabkan lemas, sakit kepala, atau bahkan dehidrasi ringan sebelum sahur tiba.
Untuk itu, bangunlah ritual hidrasi yang tertata rapi sejak matahari terbenam hingga fajar menyingsing:
- Saat berbuka: Segelas air putih suhu ruang untuk memulai hidrasi dan menurunkan suhu tubuh.
- Setelah salat Magrib: Segelas lagi, sebagai persiapan sebelum hidangan utama.
- Usai makan berat: Segelas air putih untuk mendukung pencernaan optimal.
- Saat menyesap kopi: Selalu siapkan satu gelas ekstra air putih sebagai “penawar” langsungminum bergantian agar efek diuretik kafein tak mendominasi.
- Sebelum tidur: Segelas air untuk menjaga kestabilan hidrasi selama istirahat malam.
- Saat sahur: Mulai dengan segelas air untuk membilas sisa metabolisme malam, dan tutup dengan segelas lagi setelah makan sahur sebagai cadangan cairan hingga berbuka berikutnya.
BACA JUGA: Asamnya Secangkir Kopi Adalah Konstruksi Otak?
Meski menggoda untuk mengusir kantuk pagi, minum kopi saat sahur kurang bijak terutama bagi yang sensitif. Kafein akan mempercepat keinginan buang air kecil di pagi hari, berujung pada dehidrasi dini dan rasa lemas sebelum tengah hari. Simpanlah kenikmatan itu untuk malam hari saja. Batasi cukup 1 atau 2 cangkir per malam, dan pastikan setiap sesapan diiringi kesadaran penuh untuk tetap minum air putih yang cukup.
“Kopi yang terbaik adalah kopi yang tidak merampas kesegaran tubuh Anda di keesokan harinya.”
Dengan pendekatan ini, kopi bukan lagi sekadar minumania menjadi bagian dari seni menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa di bulan suci. Selamat menikmati setiap tetes dengan penuh syukur dan kesehatan.
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan, semoga setiap detik penantian berbuka menjadi pengingat akan kebesaran rahmat-Nya, setiap hembus lapar dan dahaga menjadi sarana membersihkan hati dari noda duniawi, dan setiap tarikan napas di siang hari yang panas ini menjadi doa yang tak putus untuk kebaikan diri, keluarga, serta seluruh umat.
Semoga puasa kita bukan hanya menahan makan dan minum, melainkan juga menahan lisan dari ghibah, mata dari hal-hal yang sia-sia, serta hati dari iri dan dengki sehingga ketika matahari tenggelam dan azan Magrib berkumandang, kita tak hanya mengisi perut, tapi juga mengisi jiwa dengan ketenangan, syukur, dan kedekatan yang lebih dalam kepada Allah SWT.
Selamat berpuasa dengan penuh keikhlasan, semoga Ramadan tahun ini menjadi bulan penuh ampunan, keberkahan dan transformasi bagi keshalehan sosial kita semua. Ingat ngopi, ingat tenjobumi kopi









